MAKALAH AKHLAK TASAWUF PENGERTIAN, RUANG LINGKUP DAN MANFAAT MEMPELAJARI ILMU AKHLAK

MAKALAH 

AKHLAK TASAWUF

PENGERTIAN, RUANG LINGKUP DAN MANFAAT MEMPELAJARI ILMU AKHLAK


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt, atas limpahan rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah mengenai “Pengertian, Ruang Lingkup dan Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak”. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kehadirat Rasulullah SAW, yang membimbing kita menuju jalan yang diridhoi oleh-Nya.

Adapun maksud dan tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Akhlak Tasawuf” dan tak lupa pula kami ucapkan terimakasih kepada Dosen Wahyu Stiawan, M.Pd  selaku dosen pengampu  Mata Kuliah “Akhlak Tasawuf” yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini. Dalam pembuatan makalah kami telah berusaha semakisimal mungkin dan kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Kami mengharapkan masukan, kritik dan saran dari dosen dan teman-teman yang bersifat membangun. Karena kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan.


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN

        A. Latar Belakang iv

        B. Rumusan Masalah iv

        C. Tujuan Penulisan iv

BAB II PEMBAHASAN

        A. Pengertian Akhlak Tasawuf 1

        B. Ruang Lingkup Akhlak Tasawuf

        C. Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak Tasawuf

        D. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Lainnya

BAB III PENUTUP

        A. Kesimpulan 9

        B. Saran 9

DAFTAR PUSTAKA







BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoterik dari diri manusia. Hal ini berbeda dengan aspek Fiqih, khususnya bab thaharah yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek jasmaniah atau lahiriah yang selanjutnya disebut sebagai dimensi eksoterik. Islam sebagai agama yang bersifat universal dan mencaku berbagai jawaban atas berbagai kebutuhan manusia, selain menghendaki kebersihan lahiriah juga menghendaki kebersihan batiniah, lantaran penilaian yang sesungguhnya dalam Islam diberikan pada aspek batinnya. Hal ini misalnya terlihat pada salah satu syarat diterimanya amal ibadah, yaitu harus disertai niat.

Melalui studi tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkannya dengan benar. Dari pengetahuan ini diharapkan ia akan tampil sebagai orang yang pandai mengendalikan dirinya pada saat berinteraksi dengan orang lain, atau pada saat melakukan berbagai aktivitas dunia yang menuntut kejujuran, keikhlasan, tanggung jawab, kepercayaan dan sebagainya. Dari suasana yang demikian itu, tasawuf diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan moral yang mengambil bentuk seperti manipulasi, korupsi, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan dan kesempatan, penindasan.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, masalah yang akan dibahas adalah :

1. Apakah Pengertian Akhlak Tasawuf?

2. Apakah Ruang Lingkup Ilmu Tasawuf?

3. Apakah Manfaat Mempelajari Ilmu Tasawuf?

4. Bagaimana Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Lainnya?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan masalah pada makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengertian Akhlak Tasawuf.

2. Untuk mengetahui ruang lingkup Akhlak Tasawuf.

3. Untuk mengetahui manfaat mempelajari Ilmu Akhlak Tasawuf

4. Untuk mengetahui Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Lainnya



BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Akhlak Tasawuf

Perkataan akhlak (Bahasa Arab) dilihat dari sudut bahasa (etimologi) adalah bentuk jamak dari kata khuluq, khulq berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, bahkan lebih dari itu akhlak merupakan sifat yang melekat dalam jiwa manusia. Ada pula yang berpendapat bahwa akhlak berasal dari bahasa arab yaitu ism masdar dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan yang beraarti peragai, kelakuan, tabia’at, watak dasar, kebiasaan, kelaziman. Namun akar kata akhlak dari akhlaqa sebagaimana tersebut di atas tampaknya kurang pas , sebab ism masdar dari kata akhlaqa bukan akhlaq tetapi ikhlaq. Menurut para ahli ada beberapa pengertian akhlak, Ahmad Amin berpendapat akhlak adalah kebiasaan atau kehendak, artinya, apabila kehendak itu melahirkan perbuatan dengan terbiasa, maka kebiasaan atas dasar kehendak itu disebut akhlak. Misalnya akhlak darmawan yang biasa memberikan rizki pada orang lain. Di dalam al-Adabu an-Nabawi disebutkan : “Akhlak merupakan segala sifat yang murni dalam jiwa yang menimbulkan ekspresi dengan mudah tanpa paksaan”. 

Berpijak dari pendapat para ahli, hakekat akhlak adalah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa manusia dan telah menjadi kepribadian, sehingga dapat melahirkan berbagai macam perbuatan yang sepontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila perilaku baik menurut pertimbangan akal sehat terpuji serta tidak bertentangan dengan syariat agama, maka hal itu dinamakan budi pekerti yang mulia dan sebaliknya apabila akal sehat menolak maka perbuatan itu dinamakan perbuatan yang tercela, maka dari itu untuk mengatakan bahwa perbuatan tersebut termasuk akhlak atau bukan, cukup dengan melihat perbuatan yang dilakukan itu murni, tulus, tanpa dipaksa atau sebaliknya.

Definisi-definisi akhlak tersebut secara subtansial tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak yaitu:

Pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiaannya. 

Kedua, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran. Perbuatan akhlak juga perbuatan yang dilakukan oleh orang yang sehat akal pikirannya. Namun karena perbuatan tersebut sudah mendarah daging, sebagaimana disebutkan pada sifat yang pertama. 

Ketiga, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. oleh karena itu jika ada seseorang yang melakukan suatu perbuatan, tetapi perbuatan tersebut dilakukan karena paksaan, tekanan atau ancaman dari luar, maka perbuatan tersebut tidak termasuk ke dalam akhlak dari orang yang melakukannya. 

Keempat, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara. 

Kelima, sejalan dengan ciri keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena allah, bukan ingin dpuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian. 

A. Ruang Lingkup Akhlak

Objek pembahasan ilmu akhlak adalah perbuatan manusia untuk selanjutnya diberikan penilain apakan baik atau buruk, dan mempunyai ciri-ciri perbuatan yang dilakukan atas  kehendak dan kemauan, telah dilakukan secara kontinyu sehingga menjadi tradisi dalam kehidupannya.

Dr. Abdullah dalam buku Dustur al-Akhlaq fi al-Islam, membagi ruang lingkup akhlaq kedalam lima macam aspek kehidupan, yaitu:

1. Ahlak Perorangan

Akhlak ini dibagi menjadi:

a. Semua hal yang diperintahkan

b. Segala sesuatu yang dilarang

c. Segala sesuatu yang diperbolehkan

2. Akhlak keluarga

Akhlak ini juga dibagi menjadi beberapa bagian:

a. Kewajiban timbal balik antara orang tua dan anak

b. Kewajiban suami dan isteri

c. Kewajiban terhadap keluarga dekat

3. Ahlak bermasyarakat:

a. Hal-hal yang dilarang

b. Hal-hal yang diperintahkan

c. Kaidah-kaidah adab

4. Ahlak bernegara:

a. Hubungan antara pemimpin dan rakyat

b. Hubungan luar negeri


B. Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak

Ruang lingkup pembahasan ilmu akhlak adalah membahas tentang perbuatan perbuatan manusia kemudian menetapkan nya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yg baik atau perbuatan yg   buruk.ilmu akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yg berisi pembahasan dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai atau hukum kepada perbuatan tersebut yaitu apakah perbuatersebut tergolong perbuatan yg baik atau yg buruk. 

Dengan demikian obyek pembahasan ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap suatu perbuatan yg dilakukan oleh seseorang jika kita katakan baik atu buruk maka ukuran yg harus di gunakan adalah ukuran normatif. selanjutnya jika kita katakan sesuatu itu benar atau salah maka yg demikian itu termasuk masalah hitungan atau akal pikiran.

Sebagai suatu ilmu yg berdiri sendiri antara lain ditandai oleh adanya berbagai ahli yg membidangi dirinya untuk mengkaji akhlak .Dalam bahasa Arab misal nya kita dapat membaca buku khulua Al Muslim (akhlak orang muslim)yg ditulis oleh Muhamad Al Ghazali ,kitab Al akhlak yg ditulis Ahmad Amin dan sebelum itu kita dapat pula menjumpai buku berjudul tahzib Al ahlak (pendidikan akhlak) yg ditulis Ibnu miskawai ,ihya Ulumuddin (menghidupkan ilmu ilmu agama) yg ditulis imam Al Ghozali kita jika bisa membaca buku fal safah akhlak yg di tulis mutdha muthari, ilmu tasawuf yg ditulis Mustafa Zahra dan lain lain.

Dengan mengumpulkan beberapa linteratur tentang akhlak tersebut menunjukan bahwa keberadaan ilmu akhlak sebagai sebuah di siplin ilmu agama sudah sejajar dengan ilmu ilmu ke Islam lainnya seperti tafsir tauhid fiqih sejarah Islam dan lain lain.  Pokok pokok masalah yg di bahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah perbuatan manusia .perbuatan tersebut selanjutnya ditentukan kriterianya apakah baik atau buruk dalam hubungan in.i Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut: 

Bahwa objek ilmu akhlak adalah pembahasan perbuatan manusia yg selanjutnya perbuatan tersebut di tentukan baik atau buruk.  Pendapat diatas menunjukan dengan jelas bahwa objek pembahasan ilmu akhlak adalah perbuatan manusia untuk selanjutnya di berikan penilaian apakah baik atau buruk.

Pengertian ilmu akhlak selanjutnya dikemukakan oleh Muhamad Al Gazali. Menurutnya bahwa kawasan pembahasan ilmu ahlak adalah seluruh aspek kehidupan manusia baik sebagai individu maupun kelompok. Dengan demikian  terdapat akhlak yg bersifat perorangan dan akhlak yg bersifat kolektif namun definisi yg kedua ini kekurangannya tidak menyertakan penilaian terhadap perbuatan tetsebut. Sedangkan definisi ilmu akhlak yg pertama walupun tidak menyebutkan akhlak yg bersifat sosial namun memberikan penilaian terhadap perbuatan tersebut. 

Dalam masyarakat barat kata ahlak sering di identikan  dengan etika, walaupun pengeditika ini tidak sepenuhnya tepat sebagaimana akan dijelaskan bahwa mereka yg mengeditikan  akhlak dengan etika mengatakan bahwa etika adalah penyelidikan tentang tingkah laku dan sifat manusia. Yang dijadikan objek kajian ilmu akhlak adalah perbuatan yg memiliki ciri ciri sebagaimana yg di sebutkan di atas, yaitu perbuatan yg dilakukan atas kehedak dan kemauan, sebenarnya, mendarah daging dan telah dilakukan secara kontinyu ataubterus menerus sehingga mentradisi dalam kehidupannya. Perbuatan atau tingkah laku yg tidak memiliki ciri-ciri tersebut tidak dapat disebut sebagai perbuatan yg dijadikan garapan ilmu akhlak.

Banyak contoh perbuatan yg termasuk perbuatan akhlak dan banyak pula contoh perbuatan yg tidak termasuk perbuatan aklak. Seorang yg mbangun masjid, gedung sekolah, rumah sakit, jalan raya, dan pos keamanan adalah termasuk perbuatan akhlak yg baik,karena hal tersebut jelas memerlukan perencanaan, waktu, biaya, pelaksana dan lain sebagainya, dan oerbuatan semacam ini tidak akan terwujud jika tidak didasarkan pada kemauan dan kehendak yg kuat dan di sengaja.ileh karena itu perbuatan semacam ini disebut ahlaki.tetapi seseorang memicingkan mata dengan tiba tiba pada waktu benda berpindah dari gelap keterang,atau menarik tangan pada waktu tersengat api atau binatang buas, hati yg berubah ubah, adalah tidak termasuk akhlak, karena semua itu di luar perencanaan, kehendak atau pilihan kita tanpa kita rencanakan lebih dahulu, hal yg demikian tidak termasuk perbuatan akhlaki, atutidak termasuk objek pembahasan akhlaki. Selanjutnya tidak pula termasuk kedalam perbuatan akhlaki yaitu perbuatan yg alami. Dalam hubungan ini muthdho mutthari mengatakan bahwa perbuatan alami tidak menjadikan pelaku layak dipuji. misal nya manakalah seseorang dirundung lapar dia akan makan dan jika dia kehausan dia akan segera mencari air dan sebagai nya. Jenis semua perbuatan diatas adalah perbuatan alami dan tidak termasuk perbuatan ahlaki. 

Dengan demikian perbuatan yg bersifat alami, dan perbuatan yg di lakukan tidak karena sengaja, atau khilaf tidak termasuk perbuatan akhlaki karena dilakukan tidak dengan dasar pilihan. Halini sejalan dengan sabda rosululoh yg berbunyi:

انالله تعال تجا وزلي وعن امتي الخطأ والنسيان ومااستكر هوا عليه. 

“Bahwasannya Allah memaafkan ku dan umatku yg berbuat salah lupa dan dipaksa”.

Hukum dibebaskan atas tiga golongan yaitu atas orang yg gila hingga ia sembuh gilanya, orang yg tidur hingga ia bangun dari tidur nya dan anak kecil hingga ia dewasa (HR. Ahmad, abu Daud dan hakim dan Umar ). Hadis hadis tersebut di atas memberi petunjuk adanya sejumblah perbuatan yg dilakukan tidak disertai kesadaran atau Kemauan diri sendiri, yaitu perbuatan yg dilakukan oleh orang, gila orang yg tidur, anak yg masih kecil, orang yg lupa dan orang yg dipaksa. perbuatan yg dilakukan oleh orang orang yg dalam keadaan demikian tidak dapat disebut perbuatan akhlak, karena semua perbuatan tersebut tidak dilakukan dengan sengaja. Selanjutnya ada perbuatan yg menyerupai kedua jenis perbuatan yg disebutkan diatas. Perbuatan yg demikian disebut dengan istilah Al amal Al mustasyabi (perbuatan perbuatan yg menyerupai ) kedua jenis perbuatan diatas. Orang yg membakar sebuah rumah dikarenakan mimpi misalnya adalah termasuk perbuatan yg menyerupai kedua jenis perbuatan diatas apakah orang yg seperti itu patut dijatuhi hukuman karena perbuatanya. Untuk menjawab masalah ini para ahli ilmu ahlak terbagi menjadi dua bagian. Pertama ada yg menghendaki perbuatan yg dapat di usahakan agar tidak terjadi, kedua perbuatan yg sudah di usahakan agar tidak terjadi tetapi tetap terjadi juga. 

Perbutan yg tergolong ke dalam Perbutan akhlak adalah perbuatan jenis pertama dengan contoh seperti tersebut diatas yaitu orang yg membakar rumah dalam keadaan mimpi. ia tahu bahwa ia sering bermimpi dan bisa berbuat sesuatu di waktu tidur, maka seharusnya agar jangan terjadi sesuatu yg tidak di ingini, supaya hal hal yg bisa mendatangkan bahaya hendak nya di jauhi, sedangkan perbuatan yg kedua tidak termasuk dalam ruang lingkup ilmu akhlak, karena perbuatan tersebut terjadi diluar kampuan dirinya.

Dengan mempethatikan keterangan tersebut diatas kita dah Pat memahami bahwa yg dimaksud dengan ilmu akhlak adal ilmu yg mengkaji suatu perbuatan yg dilakukan oleh manusia yg dalam keadaan sadar, kemauan sendiri, tidak terpaksa dan sungguh sungguh atau sebenarnya bukan perbuatan yg pura pura.perbuatan perbuatan yg demikian selanjutnya diberi nilai baik atau buruk.


C. MANFAAT MEMPELAJARI ILMU AKHLAK

Berkenaan dengan manfaat mempelajari ilmu akhlak ini,ahmad amin mengatakan sebagai berikut:

Tujuan mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang baik dan sebagian perbuatan lainya sebagian yang buruk.bersikap adil termasuk baik,sedangkan berbuat dzalim termasuk perbuatan buruk,membayar utang pada pemiliknya termasuk perbuatan baik ,sedangkan mengingkari utang termasuk perbuatan buruk.

Selanjutnya Mustafa zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu,ialah untuk memberasihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci dan bersih,bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya tuhan.

Keterangan tersebut memberi petunjuk bahwa ilmu ahklak berfungsi memberikan panduan kepada manusia agar mampu menilai dan menentukan suatu perbuatan untuk selanjutnya menetapkan bahwa perbuatan tersebut merupakan termasuk perbuatan yang baik atau yang buruk.Selanjutnya karena ilmu akhlak menentukan kriteria perbuatan yang baik dan yang buruk,serta perbuatan apa saja yang termasuk perbuatan yang baik dan yang buruk itu,maka seseorang yang mempelajari ilmu ini akan memiliki pengetahuan tentang keriteria perbuatan yang baik atau perbuatan buruk,dan selanjutnya ia akan banyak mengetahui perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk.

Dengan mengetahui yang baik ia akan terdorong untuk melakukannya dan mendapatkan manfaat dan keuntungan darinya,sedangkan dengan mengetahui yang buruk ia akan terdorong untuk meninggalkannya dan ia akan terhindar dari bahaya yang menyesatkan.

Selain itu ilmu ahklak juga akan berguna secara efektif dalam upaya membersihkan diri manusia dari perbuatan dosa dan maksiat.diketahui bahwa manusia memiliki jasmani dan rohani.jasmani dibersihkan dengan cara lahiriyah melalui fiqih,sedanbgkan rohani dengan cara batiniyah yaitu ahklak.jika tujuan ilmu ahklak tersebut dapat tercapai,maka manusia akan memilikikebersihan batin yang pada gilirannya melahirkan perbuatan yan terpuji.dari perbuatan yang terpuji ini akan terlahirlah keadaanmasyarakat damai,harmonis,rukun,sejahtera lahir dan batin,yang memungkinkan ia dapat beraktivitas guna mencapai kebahagian hidup didunia dan kebahagiaan hidup diakhirat.

Ilmu akhlak atau akhlak mulia yang berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan manusia disegala bidang.seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju yang disertai dengan akhlak yang mulia,niscaya ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang ia milikinya itu akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan hidup manusia.sebaliknya orang yang memiliki ilmu penegtahuan dan teknologi modern,memiliki pangkat,harta,kekuasaan dan sebagainya,namun tidak disertai dengan akhlak yang mulia,maka semuanya itu akan salah gunakan yang akibatnya akan menimbulkan bencana dibumi.

Demikian juga dengan mengetahui akhlak yang buruk serta bahaya-bahaya yang akan ditimbulkan darinya,menyebabkan orang enggan untuk melakukannya dan berusaha menjauhinya.orany yang demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa ilmu akhlak bertujuan untuk memberikan pedoman atau penerangan bagi manusia dalam mengetahui perbuatan yang baik atau buruk.terhadap perbuatan yang baik ia berusaha mealakukannya dan terhadap perbuatan yang buruk ia berusaha untuk menghindarinya.


HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINYA.

Ilmu-ilmu yang hbubungannya dengan akhlak dapat dikategorikan berdekatan anatara lain ilmu tasawuf, ilmu tauhid, ilmu pendidikan,ilmu jawa dan filsafat.srdangkan ilmu-ilmu yang hubungannya dengan ilmu akhlak dapat dikategorikan pertengahan adalah ilmu hokum,ilmu social, ilmu sejarah, dan ilmu antropologi.

A. Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf

Para ahli ilmu taswuf pada umumnya membagi tasawuf menjadi tiga bagian pertama tasawuf falsafi,kedua tasawuf akhlaki dan ketiga tasawuf amali.ketiga macam tasawuf ini tujuannya sama,yaitu mendekatkan diri kepada allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji.

B. Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tauhid

Ilmu tauhid sebagaimana dikemukaan harun nasution mengandung arti sebagai ilmu yang membahas tentang cara-cara meng-esakan tuhan,sebagai salah satu sifat yang terpenting di antara sifat-sifat tuhan lainnya.selain itu ilmu ini jug adapat disebut sebagai ilmu ushul  al-din dan oleh karena itu buku yang mebahas soal-soal  teologi dan islam selalu diberi nama kitab ushul al-din. Dinamakan demikian,karena masalah tauhid termasuk masalah yang pokok dalam ajaran agama islam.sealain itu ilmu ini disebut juga ilmu aqa’id, credo atau keyakinan-keyakinan, dan buku-buku yang mengupas keyakinan-keyakinan itu berjudul al aqa’id.

Selanjutnya ilmu tauhid disebut juga ilmu kalam yang secara harfiah berarti ilmu tentang kata-kata. Kalau yang dimaksud dengan ilmu kalam adalah firman allah, maka yang dimaksud adalah kalam allah swt yang ada di dalam al qur’an, dan masalah ini pernah menimbuklkan perbincangan bahkan pertentangan keras dikalangan ummat islam di abad Sembilan dan kesepuluh masehi sehingga menimbulkan pertentangan dan penganiayaan terhadap semua muslim. Hubungan akhlak dengan ilmu tauhid ini sekurang-kurangnya dapat dilihat melalui empat analisis sebagai berikut: pertama,dilihat dari segi obyek pembahasannya, ilmu tauhid sebagaimana diuraikan diatas membahas masalah tuhan baik dari segi dzat, sifatnya dan perbuatannya. Kedua dilihat dari segi fungsinya,ilmju tauhid menghendaki agar seorang yang bertauhid tidak hanya cukup dengan menghafal rukun iman yang enam dengan dalil-dalinya saja.tetapi yang terpenting adalajh agar orang yang bertauhid itu meniru dan menyontoh terhadap subjek yang terdapat dalam rukun iman itu.

C. Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu jiwa.

Ilmu jawa membahas tentang gejala-gejala kejiwaan yang tampak dalam tingkah laku melalui ilmu jawa dapat diketahui sifat-sifat psikologis yang dimiliki seseorang. Jiwa yang bersih dari dosa dan maksiat serta dekat dengan tuhan,misalnya, akan melahirkan perbuatan dan sikap yang tentang pulan,sebaliknya jiwa yang kotor, banyak berbuat kesalahan dan jauh dari tuhan akan melahirkan perbuatan yang jahat, sesat dan menyesatkan orang lain.dengan demikian ilmu jawa mengarahkan pembahasannya pada aspek batin manusia dengan cara menginterpensi ( menafsirkan) perilakunya yang tampak.dalam diri manusia terdapat potensi rohaniah ini secara lebih mendalam dikaji dalam ilmu jawa. Untuk mengembaangkan ilmu akhlak , kita dapat memanfaatkan informasi yang diberikan oleh ilmu jiwa. Dengan demikian ilmu jiwa dapat memberikan masukan dalam rangka merumuskan tentang metode dan pendekatan dalam pembinaan akhlak.

D. Hubungan ilmu jiwa dengan ilmu pendidikan.

Maka dapat diketahui bahwa tujuan pendidikannislam adalah terbentuknya seorang hamba alloh swt, yang patuh dan tunduk melaksanakan segala printahnya dan menjauhi larangannya serta memiliki sifat-sifat dan akhlak mulia.rumusan ini dengan jelas menggambarkan bahwa antara pendidikan islam dengan ilmu ahlak ternyata sengat berkaitan erat. Pendidikan islam merupakan sarana yang mengantarkan anak didik agar menjadi orang yang berakhlak.

E. Hubungan ilmu akhlak dengan filsafat.

Filsafat sebagaimana diketahui adalah suatu upaya berfikiran mendalam, radikal,samapai keakar-akarnya, universal dan sistematik dalam rangka menemukan inti atau hakikat mengenai segala sesuatu. Dalam filsafat segala sesuatu di bahas untuk ditemukan hakikatnya. Kita misalnya melihat berbagai merek kendaraan, lalu kita memikirkannya, membandingkan antara satu dengan lainnya, kemudian kita menemukan inti dan hakikat kendaraan, yaitu sebagai sarana transportasi. Dengan menyebut sarana transportasi, mak seluruh jenis dan merek mobil apa pun sudah tercakup didalamnya.

Al ghozali membagi umat manusia kedalam tiga golongan. Pertama kaum awam, yang berfikrinya sederhanya sekali.kedua kaum pilihan, yang akalnya tajam dan berfikir secara mendalam.ketiga kaum penengkar.kaum amwam dengan daya akalnya yang sederhana sekali tidak dapat menangkap hakikat-hakikat. Mereka mempunyai sifat lekas percaya dan menurut.golongan ini harus dihadapi dengan sifat memberi nasihat dan petunjuk.kaum pilihan yang daya akalnya kuat dan mendaalam harus dihadapi dengan sikap menjelaskan hikmat-hikmat, sedangkan kaum penengkar dengan sifat mematahkan argument-argumen.

Dalam pemikiran ibn khaldun tersebut tampak bahwa manusia adalah mahluk budaya yang kesempurnaanya baru akan terwujud manakala ia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ini menunjukan tentang perlunya pembinaan manusia,termasuk dalam pembinaan akhlaknya.


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

      Akhlak Tasawuf merupakan salah satu khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan. Secara historis dan teologis Akhlak Tasawuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup umat agar selamat dunia dan akhirat.tidaklah berlebihan jika misi utama keRasulan Muhammad adalah menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

B. Saran

         Setelah mempelajari tentang perkembangan kurikulum maka kami harapakan bagi setiap pembaca untuk dapat memahaminya dan dapat mempelajarinya lebih detail dari berbagai literature lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Abd al-Baqy, Muhammad Fu’ad, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an al-Karim, (Beirut: Dar al-Fikr, 1987

Abd al-Khaliq, Abd al-Rahman, Al-Hadd Bayn al-Kufr wa al-Iman (terj.)Muhammad Ali dan Abdullah MA.(Surabaya:Bungkul Indah, 1993).

Abrasyi, Athiyah, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta; Bulan Bintang, 1974), cet.II.