MAKALAH FILSAFAT BARAT MASA SKOLASTIK

 MAKALAH

FILSAFAT BARAT MASA SKOLASTIK


KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, akhirnya penyusun dapat menyelesaikan tugas ini, yang berjudul “FILSAFAT BARAT MASA SKOLASTIK”.

Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangannya,hal ini dikarenakan keterbatasan waktu, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki penyusun, oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang sifatnya membangun untuk perbaikan dimasa yang akan datang.

Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya tugas ini, semoga Allah SWT, membalas amal kebaikannya. Amin.

Dengan segala pengharapan dan doa semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI 


BAB I PENDAHULUAN …………………………………4

A. LATAR BELAKANG ………………………….….…4

B. RUMUSAN MASALAH .…………………...……….4

C. TUJUAN…………………………………………… ..4


BAB II PEMBAHASAN ………………………….………5

A. GAMBARAN UMUM MASA SKOLSTIK………………………………………...…5

B. TOKOH TOKOH PENTING DAN PEMIKIRANNYA……………………………….… 14


BAB III PENUTUP …………………………………….. 24


KESIMPULAN …………………………………………. 24


DAFTAR PUSTAKA …………………………………… 26


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kita sering mendengar bahwa filsafat adalah induk dari ilmu pengetahuan. Sebagian induk dari ilmu pengetahuan tentunya filsafat merupakan titik awal dari perkembangan ilmu pengetahuan 

Ilmu pengetahuan yang sedang berkembang pesat pada saat ini.

Sejarah yang panjang mewarnai perkembangan filsafat yang dimulai dari zaman klasik, zaman pertengahan dan zaman modern hingga sekarang ini.

Lantas bagaimanakah perkembangan filsafat barat dari zaman klasik sampai zaman modern?

B. Rumusan Masalah

Mengacau pada latar belakang diatas, kami akan mencoba merumuskan beberapa masalah yang akan dibahas

diantaranya:

1. Apa maksud dari gambaran umum masa skolastrik?

2. Siapakah tokoh-tokoh pemikirnya?

C. Tujuan

1. Utuk mengetahuai gambaran umum masa skolastik

2. Untuk mengetahui totoh-tokoh pemikirnya



BAB II

PEMBAHASAN


A. GAMBARAN UMUM MASA SKOLASTIK

Istilah skolastik adalah kata yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Jadi, skolastik berarti aliran atau berkaitan dengan sekolah.  Perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.

a. Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama. Sekolastik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang regilius. 

b. Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berfikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik-buruk. Dari rumusan tersebut kemudian muncul istilah skolastik Yahudi, skolastik Arab dan lain-lainnya.

c. Filsafat Skostik adalah suatu sistem filsafat yang termasuk jajaran pengatuhan alam kodrat, akan dimasukan kedalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal.

d. Filsafat Skolastik adalah filsafat Nasrani karena banyak dipengaruhi oleh jajaran gereja.


Filsafat Skolastik ini dapat berkembang dan tumbuh karena beberapa faktor berikut :


Faktor Religius

Yang dimaksud faktor religius adalah kedaan lingkungan saat itu yang berkehidupan religius. 


Faktor Ilmu Pengetahuan

Pada saat itu telah banyak didirikan lembaga pengajaran yang diupayakan oleh biara-biara, gereja ataupun dari keluarga istana, dan kepustakaannya diambikan dari penulis Latin, Arab (Islam), dan Yunani. 

Masa Skolastik terbagi menjadi tiga priode, yaitu:

1. Skolastik Awal, berlangsung dari tahun 800-1200

2. Skolastik Puncak, berlangsung dari tahun 1200-1300

3. Skolastik Akhir, berlangsung dari tahun 1300-1450


Skolastik Awal

Sejak abad ke-5 hingga ke-8 Masehi, pemikiran filsafat patristik mulai merosot, terlebih lagi pada abad ke-6 dan ke-7 dikatakan abad kacau. 

Saat ini merupakan zaman baru bagi bangga Eropa. Hal ini ditandai dengan skolastik yang di dalamnya banyak diupayakan penggembangan ilmu pengetahuan di sekolah-sekoah. Pada mulanya skolastik ini timbul pertama kalinya di biara Italia Selatan dan akhirnya sampai berpengaruh ke Jerman dan Belanda.

Kuriulum pengajarannya meliputi studi duniawi atau artes liberals, meliputi tata bahasa, retorika, dialektika (seni berdiskusi), ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan, dan musik.

 Diantara tokoh-tokohnya ada Aqunias (735-805), Johannes Scotes Eriugena (815-870), Peter Lombard (1100-1160), Johan Salisbury (1115-1180), Peter Abaelardus (1079-1180). 


Peter Abaelardus (1079-1180)

Ia dilahirkan di Le Pallet, Perancis. Ia mempunyai kepribadian yang keras dan pandangannya sangat tajam, sehingga sering kali bertengkar dengan ahli pikir dan pejabat gereja. Menurut Peter Abaelardus Iman harus mau didahului akal. Yang harus dipercaya adalah apa yang telah disetujui atau dapat diterima oleh akal

Berbeda dengan Anselmus, ia mengatakan bahwa berfikir harus sejalan dengan iman, alasannya bahwa berfikir itu berada di luar imam (di luar kepercayaan). Karennya berfikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Misalnya ajaran Trinitas juga berdasarkan pada bukti-bukti, termasuk bukti dalam wahyu Tuhan.

Skolastik Puncak

Masa skolastik puncak disebut masa berbunga berlangsung dari tahun 1200-1300. Dalam masa itu ditandai dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo, yang secara bersama-sama ikut menyelengarakan atau memajukan ilmu pengetahuan.

Berikut ini beberapa faktor mengapa masa skolastik mencapai pada puncaknya :

a. Adanya pengaruh dari Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad ke-12 sampai abad ke-13 telah tumbuh menjadi ilmu pengetahuan yang luas. 

b. Tahun 1200 didirikan Universitas Almamater di Prancis. Universitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater inilah sebagai awal (Embrio) berdirinya Universitas di Paris, di Oxford, di Mont Pellir, di Cambridge dan lain-lainnya.

c. Berdirinya ordo-ordo. Ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13. Hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian di mana kebannyakan tokoh-tokohnya memegang peran dibidang filsafat dan teologi, seperti Albertus de Grote, Tomhas Aquinas, Binevenatura, J.D. Scokut, William Ocham.


Skolastik Akhir

Masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya sehingga memperlihatkan staknasi (kemandengan). Di antara tokoh-tokohnya adalah Willian Ocham (1285-1349), Nicolas Cusasus (1401-1464).


William Ocham (1285-1349)

Ia merupakan ahli piker Inggris yang beraliran skolastik. Menurut pendapatnya, pikiran manusia hanya dapat mengetahui barang-barang atau kejadian-kejadian individual. Konsep-konsep atau kesimpulan-kesimpulan umum tentang alam hanya merupakan abstraksi buatan tanpa kenyataan. Pimikiran yang demikian ini, dapat dilalui hanya lewat intuisi, bukan lewat logika. Disamping itu, ia membantah anggapan skolastik bahwa logika dapat membuktikan doktrin teologis. Hal ini akan membawa kesulitan dirinya yang pada waktu itu sebagai penguasannya Paus John XXII. 


Nicolas Cucasus (1401-1464)

Ia sebagai tokoh pemikir yang berada paling akhir masa skolastik. Menurut pendapatnya, terdapat tga cara untuk mengenal, yaitu lewat indra, akal, dan intuis. Dengan indra kita mendapatkan pengetahuan dengan benda-benda yang berjazad, yang sifatnya tidak sempurna. Dengan akal kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak bersadar pada sajian atau tanggapan indra. Dengan intuisi, kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi. Hanya dengan intuisi inilah kita akan mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatukan. 

Pemikiran Nicolas ini sebagai upaya mempersatukan seluruh pemikiran abad pertengahan, yang dibuat kesuatu sintesis yang lebih luas. Sintesis ini mengarah ke masa depan dari pemikirannya ini tersirat suatu pemikiran para humanis.

1. Zaman Pertengahan

a. Zaman Awal Skolasrik

Zaman ini ditandai dengan terjadinya migrasi penduduk, yaitu perpindahan bangsa Hun dari Asia ke Eropa, sehingga bangsa jerman berpindah melintasi perbatasan kekaisaran Romawin yang secara polotik mengalami kemerosotan. Namun, ada beberapa tokoh dan situasi penting yang harus diperhatikan dalam memahami filsafat masa ini.

Pertama, ahli pikir Boethius (480-524 M), dalam usianya yang ke-44 tahun, ia dikenai hukuman mati dengan tuduhan berkomplot. Ia dianggap sebagai filosof akhir Romawi dan filosof pertama Skolastik. Jasanya adalah menerjemahkan logika Aristoteles ke dalam bahasa Latin dan menulis beberapa traktat logika Aristoteles.

Boethius adalah guru logika Abad Pertengahan dan mengarang beberapa traktat teologi yang dipelajari sepanjang Abad Pertengahan.

Kedua, Kaisar Kariel Agung yang maemerintah pada awal Abad ke-9 dan berhasil mencapai stabilitas politik yang besar. Hal ini menyebabkan yang

dibangunnya terdiri dari tiga jenis, yaitu pendidikan yang digabungkan dengan biara, pendidikan yang ditanggung keuskupan, dan pendidikan yang dibangun raja atau kerabat kerajaan. Seperti yang dikatakan Thomas Aquinas pada abad ke-13, ilmu pengetahuan adalah pembantu teologi. Pemikirannya merupakan kelanjutan dari pemikiran Augustinus.

Ketiga, terhadap beberapa nama penting lain, seperti Johannes Scotus Eriugena, Anselmus, dan Abelardus.

Eriugena (810-877) bekerja di sekolah lingkungan istana Karel Agung. Ia berjasa dalam menerjamahkan karya Pseudo-Dionysios ke dalam bahasa Latin sehingga menjadi referensi bagi dunia pemikiran abad-abad selanjutnya. Akan tetapi, karena agak sulit dicerna, pemikirannya tidak dilanjutkan orang.

Anselmus (1033-1109) memimpin biara di Normandi, Perancis, dan Uskup Agung di Canterbury, Inggris. Ia meluruskan perkataan Augustinus dengan mengatakan, “Saya pecaya supaya saya mengerti” (Credo ut intelligam). Ia terkenal terutama karena argumentasinya, bahwa Allah itu benar-benar ada. Ada tiga langkah pembuktian filsfatnya. Pertama, Allah itu Mahabesar sehingga tidak terpikirkan sesuatu yang lebih besar. Kedua, hal yang terbesar tentulah berada dalam kenyataan, karena apa yang hanya ada dalam pikiran tidak mungkin lebih besar. Kedua, Allah tidak hanya berada dalam pemikiran, tetapi juga ada dalam kenyataan. Jadi, Allah sunguh-sungguh ada.

Abelardus (1079-1142) berjasa dalam bidang logika dan etika. Dalam hal ini, terdapat dua pendirian, yaitu realisme, atau sering disebut ultra-realisme, dengan tokohnya Gulielmus yang membicarakan masalah “kemanusiaan”. Selanjutnya, nominalisme, dengan tokohnya Roscelinus. Ia berpendapat bahwa selain individu-individu, tidak ada suatu yang nyata. 

Keempat, adalah cara mengajar yang terdiri dari dua jenis, yaitu cara kuliah (lectio) yang diberikan seorang mahaguru, dan cara diskusi yang dipimpin dengan mahaguru. Dalam pelaksanaanya, baik kuliah maupun diskusi dibuatkan buku pegangan (sententiae), yang artinya pendapat-pendapat. Dari sententiae kemudian dibuat buku penggangan lain yang disebut Summa yang artinya ikhtisar. 

Masa ini merupakan kebangkitan pemikiran abad pertengahan setelah terjadi kemerosotan. Kemerosotan pemikiran filsafat pada masa pra-Yunani disebabkan kuatnyadominasi golongan gereja. Awalnya skolastik muncul pertama kali di Biara Italia Selatan dan akhirnya berpengaruh ke daerah-daerah lain. Pada masa itu persoalan pemikiran yang paling menonjol adalah hubungan antara rasio dengan wahyu (agama).

Menurut Anselmus (1033-1109 M), Rasio dapat dihubungkan atau digunakan hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan. Hubungan antara rasio dengan agama ini dirumuskannya dengan (saya percaya supaya mengerti). Maksudnya adalah bahwa orang yang mempunyai kepercayaan agama akan lebih mengerti segala sesuatunya. Tuhan, manusia dan dunia. Jadi baginya agamalah yang diutamakan dalam filsafatnya, tetapi tidak mengingkari kemampuan rasio.

1. Ultra-Realisme

Pendapat ini mengatakan bahwa universalia adalah perkara-perkara atau esensi-esensi yang benar-benar ada, lepas dari penggambaran dalam pikiran. Misalnya kemanusiaan memang merupakan sesuatu yang riil. Tokoh terkenal yang menganut realisme ialah Gulielmus dari Campeaux (1007-1120)

2. Normalisme

Ia mengatkan bahwa universalia hanyalah nama ataupun bunyi saja (flatus voice) dan tidak ada dalam realitas. Tokoh terkenal dalam aliran ini ialah Rossoellinus dari Compeige (150-1120 M).



b. Zaman Keemasan Skolastik

Zaman Keemasan Skolastik terjadi pada abad ke-13. Sama dengan Abad pertengahan, pada Zaman Keemasan Skolastik ini, filsafat dipelajari dalam hubungannya dengan teologi. Namun, hal ini tidak berarti wacana filsafat hilang. Filsafat tetap dipelajari meskipun tidak secara terbuka dan mandiri. Pada abad ini dibangun sintesis filosofis penting dan berkaitan dengan tiga hal, yaitu (1) didirikannya universitas-universitas pada tahun 1200, (2) beberapa ordo membiara yang baru dibentuk, dan (3) ditemukan dan digunakannya sejumlah karya filsafat yang sebelumnya tidak tidak dikenal.

1. Univesitas. Sekolah-sekolah di paris secara bersama membangun univesitas yang meliputi keseluruhan guru dan mahasiwa (magistrorum et scolarium).

2. Ordo-ordo membiara yang baru, merupakan faktor kedua yang mempengaruhi perkembangan hidup intelektual. Dua ordo yang terkenal adalah ordo fransiskan yang didirikan Fransiskus pada tahun 1209, dan ordo diminikan yang didirikan Dominikus pada tahun 1215.

3. Penemuan karya filsafat Yunani, terutama karya Aristoteles. Penemuan ini merupakan faktor terpenting dalam perkembangan intelektuan. Semula dunia barat hanya mengenal Aristoteles sebagai filosof bidang logika. Secara tidak langsung, ajaran ini masuk melalui Arab dengan tokoh-tokohnya Ibn Sina (980-1037), Ibn Rushd (1126-1198), serta beberapa filosof Yunani.

4. Masa Akhir Abad Pertengahan

Pada akhir abad XIV terjadi sikap kritis atas berbagai usaha pemikiran yang menyintesiskan pemikiran filsafat dan teologi yang semakin menyimpang dari pendapat Aristoteles. Dua tokoh pada abad ke-14 yang berjasa dalam mempersiapkan ilmu pengetahuan alam modern, ialah Johannes Buridanus (1298-1359) di paris dan Thomas Bradwardine (1300-1349) di Oxford. Dalam filsafat, perkembangan tampil dalam bentuk “jalan modern” (via modern) yang dipertentangkan dengan “jalan kuno” (via antiqua) 

“Jalan kuno” adalah mazhab-mazhab skolastik tradisonal, terutama thomisme dan scotisme. Juga neoplatonisme, aristoteles moderat, dan albertisme. “Jalan baru” didasari pemikiran Gulielmus (1285-1349) dari Inggris yang menjadi anggota ordo fransiskan. Pendapat-pendapatnya sering bertentangan dengan pemikiran gereja, terutama Puas di Vatikan. 

Pikiran –pikiran Gulielmus lebih terkenal dengan nama Ockham, nama kota kelahirannya. Pemikirannyacenderung pada empirisme. Ia menolak individuasi, tetpi lebih cenderung pada yang bersifat individual. Bentuk pengenalan paling sempurna adalah yang bersifat indrawi harus diaggap intuitif, dibedakan dengan pengenalan abstrak.ockham mempunyai pendirian ekstrem mengenai hal ini yang biasanya disebut terminisme dan nominalisme. Menurutnya manusia tidak mengenal kodrat, semntara konsep “kemanusiaan” sama sekali tidak memiliki oleh siapa pun. Ockham menekankan bahwa konsep merupakan suatu “tanda wajar” (signum natural), sedangkan term atau istilah yang menjelma konsep dalam bahasa besifat konvesional sehingga dapat berlainan. 

Dalam mengenal Allah, Ockham bersifat lebih kritis terhadap pengenalan manusia atas allah. Menurutnya, dengan rasio saja, manusia tidak mungkin mengenal allah, pengenalan hanya dapat terjadi melalui imam atau kepercayaan. Kekuasaan allah adalah absolut. Susunan moral yang dibuat manusia tidak bersifat absolut dan sangat bergantung pada kehendak Allah.

Filsafat abad petengahan diawali Boethius, dan diakhiri oleh Nicolaus Cusanus (1401-1464). Nicolaus Cusanus membedakan tiga macampengenalan, ialah pancaindra, rasio, dan intuisi. Pengenalan indrawi kurang sempurna. Rasio membentuk konsep berdasarkan pengenalan indrawi dan aktivitasnya dikuasai prinsip nonkontradikasi (tidak mungkin sesuatu ada dan sekaligus tidak ada). Diakui bahwa kita tidak mengetahiu apa-apa (doctaignoratia). Dengan intuisi, manusia dapat mencapai segala sesuatu yang tidak sehingga. Allah merupakan objek intuisi manusia. Dalam diri Allah, seluruh hal yang berlawanan mencapai kesatuan (coincidentia oppositorium).

 

c. Zaman Pencerahan (1500-1700 M)

Pengetahuan yang luas menjadikan Nicolaus bukan saja sebagai eksponen abad pertengahan, melaikan jika pecintai eksperimen yang membawanya kepada pemikiran ilmu masa modern. Abad pertengahan dan abad modern, yaitu abad pencerahan, enlightment, atau Aufklaerung. Para pemikir sekular yang berada dalam lingkungan gereja merasa “sumpek” dengan kehidupan berpikir abad pertengahan, di mana ilmu pengetahuan dan filsafat menjadi budak agama. Dengan demikian, tokoh-tokoh yang mengawali modernism dapat dianggap tokoh abad pencerahan. Misalnya Michel de Montaigne (1533-1592). Kemudian Descartes, Leibnitz, dan Wolf dan Eropa Daratan, serta Locke, Hume, Berkeley di Inggris.


d. Zaman Modern

Zaman pertengahan berakhir pada saat yang tidak jelas karena batas-batas pemikiran filsafatnya terlalu subtil. Beberapa ahli berpendapat bahwa masa Renaissance-lah yang menjadi batasnya, yauitu batas pemiah antara abad pertengahan dengan abad modern. Masa Renaissans artinya kelahiran kembali. Maksudnya adalah melahirkan kembali kebudayaan klasik, yaitu kebudaan Yunani dan Romawi masa Renaissans merupakan akhir dari zaman pertengahan. Mereka adalah para penulis, Petrarca (1304-1374) dan Boccaccio (1313-1375). Sementara untuk seniman lainnya, tercatat lukis, pematung, dan arsitek Michelangelo (1745-1565). Dalam bidang ilmu pengetahuan, nama-nama yang patut dikemukakan adalah Leonardo da vinci (1452-1519), Nicolaus Copermicus (1473-1543), Johannes Kepler (1571-1630), dan Galileo Galilei (1564-1643). Sementara peletak dasar filosofis dalam ilmu pengetahuan adalah Francic Bacon (1561-1623), Francic Bacon melahirkan sebuah pikiran yang menggantikan teori Aristoteles tentang ilmu pengetahuan. 

Adapun pendiri (Founding father) filsafat modern adalah Michel de Montaigne (1533-1592). Ia bukan matematikawan atau ilmuan, melainkan moralis.

Istilah modern itu sendiri tidak jelas apa maksudnya. Istilah tersebut sering menampilkan sifat arogansi, atau sekedar menolak buah pikiran yang telah lahir sebelumnya dari Abad Pertengahan. Bahkan secara berlebihan dapat juga disebut adalah sebagai suatu pemberontakan. Sama dengan kaum pascamodern yang memberontak terhadap pemikiran modern yang terlalu menghargai rasio.




B. TOKOH-TOKOH PENTING DAN PEMIKIRANNYA


1. FILSAFAT SEJARAH MENURUT “PATRICK GARDINER”

          Menurut Gardiner,filsafat sejarah menunjuk kepada dua jenis penyelidikan yang sangat berbeda. Secara tradisional ungkapan tersebut telah digunakan untuk menunjukan kepada usaha memberikan keterangan atau tafsiran yang luas mengenai seluruh proses sejarah. “filsafat sejarah dalam arti ini secara khas bercirikan dengan pernyataan-pernyataan seperti,” apa arti (makna,tujuan) “atau” hukum-hukum pokok mana yang mengatur perkembangan dan perubahan dalam sejarah? Diantara tokoh-tokoh utama yang mewakili teori semacam ini bolehlah disebut Vico,Herder,Hegel,Comte,Marx,Buckle dan orang orang seperti mereka itu telah diilhami oleh kepercayaan bahwa sejarah menghadirkan masalah-masalah yang mengatasi masalah-masalah yang menyita perhatian sejawan professional biasa. Karena sebagian besar terbatas pada penyelidikan kawasan atau bagian-bagian khusus dari masa lalu,kegiatan para sejarawan profesional biasa itu gagal memnuhi tuntutan akan suatu konsepsi yang bisa diterima secara intelektual ataupun moral mengenai perjalanan sejarah.

Bermacam-macam dasar yang menjadi tumouan tafsiran-tafsiran seperti itu, yang bervariasi dari pertimbangan-pertimbangan empiris sampai gagasan-gagasan yang jelas-jelas bersifat religious dan metafisik. Dan bentuknya pun tidak selalu sama. Marx,misalnya,menggambarakan sejarah sebagai suatu pola garis lurus tunggal dalam arah kepada suatu “tujuan” tertentu yang dapat diketahui sebelumnya,Spengler dan Toynbee telah mengemukakan sejarah sebagai perkembangan sesuai dengan peraturan-peraturan perubahan yang tetap dan selalu kembali (seperti dalam suatu lingkaran) sementara yang lainnya lagi,telah memperlakukan sejarah sebagai penggabungan dengan dua sifat tersebut. Tetapi, yang umum bagi semua sejarawan ialah anggapan,bahwa proses sejarah lebih dari satu kumpulan peristiwa-periatiwa yang “secara tak bermakna” susul menyusul dalam waktu atau suatu struktur atau suatu tema yang mendasari semuannya yng masih harus ditemukan. Bahkan abad ke-19 ketika pemikiran spekulatif serupa itu sedang pada puncaknya,ada filsuf-filsuf dan sejarawan misalnya; Schopenhauer dan Burckhardt,sebagai contohnya yang menantang pretense pemikiran itu. Dan dalam abad ke-20,pemikiran tersebut telah di hadapkan pada serangkaian kritik dari sudut logika maupun metedologi yang dalam pengaruhnya yang telah terbukti memberikan pukulan hebat pada pemikiran spekulatif tersebut. Pokok persoalan yang dibahaas oleh filsafat sejarah “formal” itu bukan jalannya peristiwa-peristiwa sejarah,melainkan hakikat sejarah yang dipandang sebagai suatu disiplin dan cabang pengetahuan yang khusus. Dengan kata lain,boleh dikatakan bahwa ia berurusan dengan pokok-pokok seperti tujuan-tujuan penyelidikan sejarah,cara-cara sejarawan menggambarkan dan mengklasifikasi bahan mereka,cara mereka sampai pada menyokong penjelasan-penjelasan dari hipotesis-hipotesis,anggapan-anggapan dan prinsip-prinsip yang menggaris bawahi tata cara penyelidikan mereka dan hubungan-hubungan antara sejarah dan bentuk-bentuk penyelidikan lain. Jadi masalah-masalah yang dibahas oelh sejarah formal bukan masalah-masalah spekulatif sejenis yang telah di sebutkan di depan. Minat filsuf terhadap hakikat pemahaman secara philosophis terhadap ilmu sejarah sebagian besar lahir sebagai bagian dari suatu proses umum melawan kecenderungan (lazim di antara penganut paham pencerahan). Untuk memandang ilmu-ilmu alam sebagai mewakili pola teladan dari semua pengetahuan yang benar. Dalam abad ke-18,tokoh empiris seperti David Hume tidak melihat alasan untuk mempertanyakan dan dalam abad ke-19 kepercayaan tersebut selalu ditegaskan oleh sejumlah ahli teori yang beralam pikiran positifisme sejauh kepercayaan itu dipertahankan,tampak ada dasar-dasar untuk menggap bahwa studi sejarah menghadirkan masalah-masalah istimewa ditinjau dari sudut filsafat; secara logis dan empiris teknologis ia ada pada tingkat yang sama dengan bentuk ilmu empiris yang mana pun.


2. Dilthey dan Beneditto Croose

            Tetapi akhir abad yang lalu kita menyaksikan pemunculan sejumlah piker yang tampaknya tidak lagi menerima anggapan yang mengenakan tersebut di atas yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang merepotkan; diantara pengarang-pengarang itu yang lebih berpengaruh dalam kecenderungan baru tersebut ialah George Simmel,Heinrich Rickert, dan terutama Wilhelm Benedetto Crose (1917) di Itali ( taufiq Abdullah, et al.,  1985:125-126). Kategori-kategori yang abstrak dari ilmu (“pseudo konsep” menurut Crose) disesuaikan terhadap tujuan-tujuan yang sangat berlainan; lapangan penerapan mereka yang sebenarnya ialah lingkungan universal dan apa yang tidak berubah-ubah,dan karenanya mereka tidak dapat menjalankan peranan di dalam sejarah yang di konsepsikan secara benar karena sejarawan tidaklah menaruh perhatian pada fenomena yang di pandang sebagai “contoh” atau ilusrasi-ilusrasi mengenai kebenaran-kebenaran umum,seperti pernah diungkapan oleh Michael Oakeshott (1933:154). Katanya “ Pada saat fakta sejarah dipandang sebagai ilustrasi-ilustrasi hukum yang umum,sejarah diusir pergi”. Selain itu lebih lanjut pada satu hal yang sangat hakiki yang ingin ditekankan oleh kritikus-kritikus seperti itu,Baik Dilthey maupun Crose menggaris bawahi perbedaan yang mereka anggap penting sekali antara pokok persoalan ilmu dan pokok persoalan sejarah. Dalam istilah-istilah yang kasar, perbedaan ini mungkin dapat digambarkan/diwakili oleh dikhotomi terkenal antara “jiwa” dan “alam”. Lebih khusus lagi,perbedaan tersebut melibatkan kepercayaan bahwa tidak mungkin memandang kegiatan-kegiatan para pelaku sejarah semata-mata sebagai potongan-potongan tingkah laku yang dapat diamati dan dapat dikembalikan kepada (atau dapat diterangkan dalam istilah) benda-benda fisik semata. Dari itu disimpulkan bahwa prinsip pengetahuan dan pengertian yang sesuai di sini pasti bukan prinsip-prinsip yang diandalkan oleh tafsiran-tafsiran ilmiah tentang dunia.


3. R.G. Collingwoodr  

          Pendirian dasar dari paham tersebut di atas mungkin paling kuat dan jelas dirumuskan oleh filsuf Inggris R.G. Collingwood (1946) yang dalam karyanya sangat dipengaruhi oleh Crose. Menurutb Collingwood,tugas pokokn sejarawan adalah “memikiran kembali” dan “memerankan lagi” di dalam pikirannya pertimbangan-pertimbangan dari pelaku sejarah dan dengan begitu peristiwa yang harus di sorotinya dibuat menjadi bisa dipahami dengan cara yang tak ada hubungannya dengan ilmu-ilmu alam. Ini menyebabkan diantara lain menegaskan bahwa istilah “sebab” mempunyai arti tersendiri di dalam konteks cerita sejarah,tak boleh dicampur adukkan dengan arti manapun yang mungkin saja dikandungnya di tempat lain. Jadi menunjukkan apa yang menyebabkan suatu kejadian di dalam sejarah bukan merupakan suatu soal meletakkan kejadian itu di bawah kekuasaan hukum ilmiah atau generalisasi empiris. Tapi itu lebih merupakan soal membangkitkan “segi dalam nya-,menunjukkan apa yang terjadi selagi tanggapan dari suatu makhluk rasional berhadapan dengan suatu situasi yang menuntut pemecahan praktis (Taufik Abdullah,  et.al 1985:127)”. Pertimbangan-pertimbangan seperti diuraikan di atas merangsang banyak analis filosofi modern atas sejarah. Ini terlah berkisar sekitar pertanyaan apakah dan dengan cara bagaimana pemikiran secara ilmu sejarah mempunyai logikanya sendiri yang khas yang tak dapat ditafsirkan dalam istilah-istilah ilmiah yang lain. 


4. Friedrick Hegel (1770-1831)

              George Wilhelm Friedrick Hegel lahir di Stuttgart,Jerman 1770. Belajar filsafat di Tubingen bersama schelling. Tahun 1817 hegel diangkat menjadi guru besar di Heidelberg dan satu tahun kemudian pindah di Berlin. Disini hegel sangat popular dan disebut “Professor Professorum” artinya guru besar professor. Mahasiswa-mahasiswa dating dimana-mana untuk mendengarkan ajarannya. Tahum 1831 ia meninggal di Berlin. Untuk memahami filsafat hegel harus diterangkan bentuk filsafatnya. Seluruh sistem hegel terdiri dari rangkaian-rangkaian dialektis tiga tahap,yaitu Tesis – Antitetis – Sintetis. Contoh : dari Ada – tidak ada – menjadi .  hegel memendang sejarah manusia sebagai perwujudan ide yang ilahi yaitu “yang mutlak” dan setiap bagian atau periode sejarah merupakan suatu langkah terus ke aeah penyempurnaan ide yang ilahi. Demikian segala yang ada pada bagian penyempurnaan ini mesti ada bebudi dan segela yang ada adalah hasil perkembangan yang akan dating.


5. Dialektis Materialisme Dan Historis Materialisme, Oleh Kari Marx (1818-1883) Dan Fredericht Engels (1820-1895)

          Maksud dari pembahasan ini adalah mengungkapkan pokok-pokok pikiran serta aspek filsafat secara yang ada di dalam dialektis dan historis materialism menurut Karl Marx dan Engels. Dalam ajaran hegel “dialektis” adalah bahan yang paling utama. Dialektis berasal dari kata dialego artinya membuat percakapan,polemik. Dalam proses berpikir dapat dibagi 3 lapisan, yaitu: pendapat,jawaban dan persatuan. Persatuan itu dalam waktu sama merupakan pendapat baru yang menuntut keberatan yang baru. Demikian proses itu berlangsung terus membimbing sampai pengetahuan yang lebih terang. Proses situ dinamakan “Thesis”, “Antithesis” dan “ Synthesis”. Dalam prose itu tidak ada suatu stadium yang beristirahat. Semua dalam perkembangan terus-menerus. Dan justru karena sifat gerakan itu Marx mengambil dialektik itu dari ajaran Hegel. Tetapi apa yang tidak bisa diambil dan hegel gurunya adalah idealism hegel. Oleh karena itu mereka mengambil dialektika saja dari filsafat hegel,maka mereka anggap bahwa mereka sudah mengambil inti dari ajaran hegel itu. Marx memandang ide dan segala yang berhubungan dengan ide itu tidak lain dari pada suatu materi yang diganti dan dibentuk dalam pikiran manusia (nicht anders als in menschenkopf umgesetzte und uebersetzte material) (A.  Marks dan R.E.  Tamburaka,  1965:25) Menurut marx segala yang disebut manusia pada umumnya rohani,jiwa hanya suatu reflex dari yang materi, reflex dari alam. Apakah Materialismus?

 Marx memakai istilah materi itu pada intinya berasal dari ajaran Feuerbach seorang murud dari hagel. Feuerbach memusatkan segala pikirannya dalam persoalan religious. Ia memandang manusia sebagai allah untuk manusia. Manusia dalam hakikatnya adalah makhluk yang bermasyarakat, dan hanya kalau masyarakat dan dalam persatuan dengan manusia yang lain manusia itu adalah maklhuk yang sejati. Ajaran asli dan ortodoks yang disebut materialism dialeksis oleh marx dan engel seperti sudah dijelaskan di atas,digunakan oleh mereka untuk menerangkan perkembangan sejarah manusia dan masyarakat,Dengan demikian pokok-pokok pikiran dalam materialism hitoris, yaitu:

1. Faktor yang paling penting yang menyebabkan perkembangan sejarah tidak ada lain daripada factor ekonomi.

2. Basis itu bergerak secara dialektis dan akibat-akibat gerakan ity adalah pertentangan sosial.

Itulah ajaran yang asli dari Karl Marx,tetapi berkat kecaman yang hebat ia sudah memperbaiki sesuatu dalam ajarannya itu. 

Mereka membagi lima lapisan masyarakat dalam sejarah karena alasan perbedaan keadaan produksi masing-masing. Yaitu: (1) Urkomunisme (masyarakat pertama), (2) Bentuk perbudayaan,anggota masyarakat tidak memiliki apa-apa, (3) Feodalisme, (4) Kapitalisme, dan (5) Sosialisme

Dasar filsafat Marx ialah bahwa setiap zaman,sistem produksi merupakan hal yang fundamental. Perkembangan sejarah ditentukan oleh perkembangan sarana-sarana produksi yang material. Sebagai contohnya misalnya dalam usaha menyelenggarakan pertanian,yang menntukan adalah sarana-sarana produksi,seperti cangkul,alat pembajak,jenis-jenis pupuk dan sebagainya. Pandangan Marx tentang agama,sama halnya seperti Feuerbach,yang memandang agama sebagai proyeksi hendak manusia. Perasaan atau gagasan keagamaan merupakan hasil kemauan suatu masyarakat tertentu,yang berada di dunia sekarang ini. 


FILSAFAT PRA-SOKRATES

        Filsafat pra-sokrates adalah filsafat yang tumbuh dan berkembang sebelum masa sokrates. Pemikiran-pemikiran para filsuf pra-sokrates bergerak seputar upaya memahami inti/prinsip terdalam secara rasional yang mendasari kenyataan dunia.


THALES (624-546 SM) 

Menurut thales, prinsip dasar/asas pemula dari segala sesuatu (kenyataan) adalah air. Sifat air yang terus mengalir dan bergerak merupakan asas (prinsip) kehidupan segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Air merupakan unsur (anasir) yang memberikan kehidupan bagi segala sesuatu. Tanpa air,tidak ada kehidupan berarti di dunia. Tanpa air, kehidupan tiada. Air adalah penyebab pertama kehidupan. Air adalah kekuatan yang menciptakan dan menghidupkan kehidupan di dalam dunia ini.


ANAXIMANDER

Anaximander merupakan murid Thales. Dia setuju dengam pendapat gurunya bahwa harus ada suatu “asas tunggal” yang mendasari segala sesuatu di dunia. Namun,pronsip dasar segala sesuatu yang dimaksud bukanlah air seperti ysng di doktrinkan thales. Asas pemula segala sesuatu adalah realitaas (kenyataan) yang tidak terhingga yang di sebut apeironlindefinite things. Alasannya, yang tidak terhingga ini tidak memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh zat-zat seperti air. Yang tidak berhigga itulah yang member eksistensi atau keberadaan bagi segala sesuatu yang berhingga.


ANAXIMENES (585-528 SM)

Setelah mempertimbangkan asrgumentasi Ansximenes tentang apeiron,Anaximenes tidak puas dengan kebenaran hal ini. Ia memproklamasikan model perspektif. Menurutnya, udara merupakan substansi dasar dari asal segala sesuatu yang ada. Udara merupakan unsure/zat yang meliputi seluruh alam semesta.


PYTAGORAS (580-500)

Pytagoras terkenal dengan sebutan filsuf angka atau bilangan. Aktivitas filsafat digelutinya antara tahun 525-500. Menurut pyatagoras, segala sesuatu terdiri atas bilangan atau nomor-nomor. Asas pemula segala sesuatu adalah bilangan, khususnya bilangan satuan (1,2,3,4,5,6,7,8,9,10). Segala kenyataan tersusun atas bilangan-bilangan sebagai kenyataan yang teratur. Bilangan-bilanganlah yang akhirnya membentuk suatu dunia atau kosmos yang harmonis. 

Pytagoras melihat nomor/bilangan/matematika sebagai dasar dari segala sesuatu. Angka 1 merupakan angka tunggal,tetapi angka 2 dibentuk dari hasil penjumlahan angka 1+1=2. Angka 3 berupa segitiga,dalam angka 4 membentuk segiempat. Angka-angka juga dapat digunakan dalam dunia music,seperti membentuk not-not (1=do,2=re,3=mi,4=fa,5=sol,6=la,7=si).


HERAKLITUS (535-457 SM)

Heraklitus tertarik dengan masalah dinamika atau perubahan. Oleh karena itu,filsafatnya disebut juga filsafat proses atau filsafat menjadi segala sesuatu senantiasa mengalir dalam proses menjadi,tidak ada segala sesuatu pun yang bersifat tetap. Hakikat/asas segala sesuatu adalah perubahan dalam keadaan menjadi. Dari keadaan menjadi inilah, timbul pertentangan:dari mati timbul hidup,dari hidup timbul mati,dari bangun timbul tidur,dari tidur timbul bangun,dari muda timbul tua,dari tua timbul muda,dari bagian timbul keseluruhan,dari keseluruhan timbul bagian,dan selanjutnya terus terjadi sebuah kontinuitas relasi bipolar yang ajek.


PARMENIDES (540-475 SM)

Ide Parmenides sangat kontras/berlawanan dengan ajaran para filsuf pendahulunya,khususnya Pytagoras dan Heraklitus. Berberda dengan pendirian filsafat heraklitus (perubahan),Parmenides berpendirian bahwa “ada” tidak pernah mengalami perubahan. Ada tidak mempunyai masa lalu dan amasa depan. Ada hanya memiliki kekinian (masa kini) yang bersifat abadi. Ada tidak bisa dibagi-bagi dan tidak dapat berubah-ubah.karena jika “ada” bisa di bagi-bagi,maka pastilah aka nada banyak jenis “ada”. Ada tidak boleh berubah karena perubahan itu mengandung unsur tiada di dalamnya. Ada bersifat final,definitif,tetap,stabil, dan konstan.


EMPEDOKLES (492-432)

Dalam kenyataan,tidak adasoal timbul dan tenggelam. Adanya berbagai bentuk kenyataan sekadar merupakan akibat pencampuran/penyatuan dan pemisahan empat jenis unsur: air,tanah,udara,dan api. Proses ini berlangsung karena ada dua kekuatan besar yang menguasai segala sesuatu yang saling bertentangan,yaitu cinta dan benci.


ANAXAGORAS (499-428)

Dalam mengikuti teori pemisahan dan penyuatuan empedokles,Anaxagoras menegaskan bahwa unsure-unsur pemisahan dan penyatuan bukan hanya terdiri atas empat unsure (air,udara,api,tanah), melainkan terdiri atas benih-benih (sperma) yang jumlahnya tidak terhingga dengan sifat-sifatnya yang beraneka ragam pula. Benih inilah yang menyebabkan terbentuknya segala suatu yang beraneka,sehingga keadaan segala sesuatu terkandung di dalam segala sesuatu dapat terjadi.

Filsafat yang terpenting adalah teori tentang kesadaran (nous). Dalam kondisi kacau,nous menimbulkan gerak putaran yang menyebabkan unsure-unsur terpisah dan memunculkan kondisi ketertuban atau keteraturan dalam kehidupan.


DEMOKRITUS (460-370)

Teorib Anaxagoras (tentang sesuatu yang tidak terbagi) diulang lagi oleh demokritus,tetapi bagian tersebut (atom) tidak bersifat kualitatif,tetapi kuantitatif. Atom-atom tersebut tidak dapat dilihat,tetapi terus bergerak tiada henti. Gerak ini bukan hanya terjadi karena ruag yang penuh,tetapi juga karena ruang hampa,sehingga kenyataan terdiri atas atom-atom dan ruang hampa. 

Demokritus membedakan dua jenis pengetahuan.

1) Pengetahuan indrawi bersifat menyesatkan/palsu (misalnya mendengar,membau,mencium,mengecap,dan lain-lain.

2) Pengetahuan akal merupakan pengetahuan sejati menuju kebenaran. Dengan akal,manusia dapat mengusahakan kebajikan tertinggi,yaitu kebijaksanaan ( Stumpf, 1982: hlm.5-27


BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Filsafat abad pertengahan lazim disebut abad  filsafat skolastik. kata tersebut diambil dari kata schuler yang berarti ajaran atau sekolahan. Yang meliputi mata pelajaran gramatika,gepmetria,aritmatika,astronomia,musical dan dialektika(logika). Belakangan kata skolastik menjadi istilah bagi filsafat pada abad 9-15 yang mempunyai corak khusus yaitu filsafat yang dipengaruhi agama.

Zaman pertengahan ialah zaman dimana filosafat abad pertengahan di cirikan dengan adanya hubungan erat antara agama krieten dan filsafat. Abad pertengahan memiliki sebutan lain misalnya abad kegelapan, jaman ini yang semuanya menggambarkan corak pemikiran filsafat dan keilmuan yang dibentuk sesuai dengan perkembangan peradaban Kristen.

Secara garis besar,filsafat abad pertengahan dapat di bagi menjadi dua periode yaitu periode skolastik islam dan periode skolastik Kristen.

Para ahli fikir islam (scholastic islam) yaitu al-kindi,al-farabi,ibnu sina,al-gazali,ibnu rusyd dan lain-lain. Mereka itulah yang member sumbangan sangat besar bagi para filosof eropa yang menggap bahwa filsafat aristoteles,plato, dan al quran adalah benar. Namun dalam kenyataan bangsa eropa tidak mengakui atas perananan ahli fikir islam yang mengantarkan komodernan bangsa barat.

Periode skolastik Kristen dalam sejarah perkembangannya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu masa skolastik awal,masa skolastik, dan masa skolastik akhir. Masa skolastik awal di tandai dengan kebangkitan pemikiran abad pertengahan terlah menjadi kemerosotan di sebabkan kuatnya dominasi golongan gereja. Masa skolastik keemasan ditandai dengan munculnya karya non-Kristiani dan filsuf islam mulai berpengaruh. Masa ini juga disebut maa berbunga disebebkan bersamaan dengan munculnya beberapa universitas dan ordo-ordo yang menyelenggarakan pendidikan itu pengetahuan. Pada masa skolastik keemasan ajaran aristoteles mendapatkan kemenangan dan sangat mempengaruhi seluruh perkembangan skolastik, ditandai dengan upaya Thomas bAquinas memurnikan ajaran Aristoteles melalu bukunya “summa theologiae”. Masa skolastik akhir ditandai dengan kemalasan berfikir  filsafat sehingga menyebabkan stagnansi pemikiran filsafat skolastik kristen.


SARAN

Penulis menyadaribahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis senantiasa dengan lapang dada menerima bimbingan da arahan serta saran dan kritik yang sifatnya membangun demi perbaikan karya-karya berikutnya.


DAFTAR  PUSTAKA

1. Achmadi Asmoro. 2012.FILSAFAT UMUM. Jakarta: PT. Rajagrafindo persada.

2. Drs. Achmadi Asmoro. 2001. FILSAFAT UMUM. Jakarta: PT. Rajagrafindo persada.

3. http://www. Elisa. Ugm.ac.idh

4. Prof. Dr. Fadhil lubis Nur. 2015. PENGANTAR FILSAFAT UMUM.. Medan. PT. Perdana publishing

5. Prof. Dr. A. Wiramihardja Sutardjo. 2006. PENGANTAR FILSAFAT. Bandung: PT. Rafika aditama

6. Drs. Hamdani. 2011. FILSAFAT SAINS . Bandung: PT. CV Pustaka Setia

7. Fios Frederikus. 2013. PENGANTAR FILSAFAT UMUM DAN LOGIKA. Jakarta: PT. Selembahumanika

8. Prof. Drs. E. Tamburaka H. Rustam, 1999. PENGANTAR ILMU SEJARAH,TEORIFILSAFAT, SEJARAH FILSAFAT DAN IPTEK. Jakarta: PT. Rineka Cipta

9. Drs.Mustansyir Rizal. 2001. FILSAFAT UMUM. Yogyakarta: PT. Pustaka Pelajar

10. http://www. Revisi Makalah Perodisasi Filsafat Abad Pertengahan