MAKALAH
ILMU MANTIQ SEJARAH LOGIKA
PENDAHULUAN
Secara etimologis, logika adalah istilah yang dibentuk dari kata logikos yang berasal dari kata benda logos yang berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran), kata, percakapan, atau ungkapan lewat bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur, namun sekarang ini lazim disebut logika.
Dewasa ini logika telah mulai mendapat pengakuan dalam bidang pendidikan di Indonesia dengan kehadiran berbagai buku logika dalam bahasa Indonesia, namunmemberikan gambaran yang kurang tepat mengenai logika.
Pada dasarnya logika tidak lepas dari penalaran logis (logical reasoning). Maka logika dan kelahirannya tidak bisa lepas dari filsafat atau pemikiran ilmiah pada umumnya.
Selanjutnya, mengenai pembahasaan tentang sejarah logika akan dijelaskan pada bab pembahasan. Adapun sub-sub yang dibahas antara lain : 1) logika pada abad Yunani Kuno, 2) logika pada abad pertengahan, 3) logika pada abad modern, 4) ilmu mantiq atau logika pada peradaban Islam, 5) ilmu pengetahuan dan pembagian pengetahuan, 6) peranan logika bagi ilmu dan 7) hubungan logika dan pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Logika pada Abad Yunani Kuno
Logika telah ada semenjak manusia ada di dunia,hal ini dapat dimengerti,sebab tidaklah mungkin manusia yang pertama dulu tidak berpikir,walaupun sederhananya manusia dalam kesehariannya pasti memperatekan hukum berpikir,tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah manusia menyadari bahwa seseorang sedang melakukan berpikir sebab manusia yang berlogika tidak sepenuhnya menyadari bahwa seseorang telah melakukan kegiatan berpikir.
Pada perkembangannya persoalan yang dihadapi manusia bertambah kompleks,sehingga seringkali manusia mengalami kesulitan dalam melakukan olah pikir agar masalah yang kompleks itu dapat dipikirkan dan dipecahkan secara benar maka manusia membuat aturan-aturan berpikir.
Menurut sejarah Zero dari Citium (340-250 SM) disebutkan bahwa tokoh Stoa adalah yang pertama kali menggunakan logika,tetapi akaor logika sudah terdapat dalam pemikiran para filosuf majhab Elea,mereka telah melihat masalah identitas dan perlawanan asas dalam relaitas,tetapi kaum sufislah yang membuat pikiran manusia sebagai titik api pemikiran secara eksplisit(Poespoprojo,1999:410). Mempersoalkan masalah pikiran dan bahasa,maalah penggunaan bahasa dalam kegiatan pemikiran,dapatkah ungkapan mengatakan secara tepat apa yang ditangkap pikiran? Dipersoalkan leh Gorgias dari Lionti Scilia tahun (483-375). Sokrates (470-399) dengan metode ironi dan maieutika,menggembangkan metode induktif,dalam metode ini dikumpulkan contoh dan peristiwa konkrit untuk kemudian di cari ciri-ciri umumnya (Poespoprojo,1999:41)
Plato menggunakan methoe Sucrates menjadi teori Dinge an sich, sedangkan Aristoteles mengembangkan menjadi teori tentang ilmu.
Menurut Plato ide adalah bentuk model yang bersifat umum dan sempurna yang disebut Prototypa sedangkan benda individu duniawi hanya merupakan bentuk tiruan yang tidak sempurna yang disebut Ectypa. Gagasan Plato banyak memberikan dasar pada perkembangan logika terutama yang berkaitan dengan ide dan penggunaan bahasa dalam pikiran. Logika plato disistimatiskan oleh aristoteles sehingga logika episteme (logika ilmiah) dapat terwujud berkat karya aristoteles alam buku yang bernama arganon.
Aristoteles dianggap guru pertama dari logika tetapi logika aristoteles ini masih bersifat teoristis. Sedangkan Al-Farabi telah menguji kebenaran dari setiap keputusan (kodiah, proposisi) logika dipelajari sebagai ilmu tersendiri disamping ilmu yang membantu ilmu-ilmu yang lain dalam rangka berfikir ilmiah.
Bagi Aristoteles dalam masalah kategori struktur bahasa,hukum formal konsistensi proposisi,silogisme kategori,pembuktian ilmiah,perbedaan atribut hakiki dan atribut bukan hakiki sebagai kesatuan pemikiran bahkan telah menyentuh bentuk dasar simbolisme. Aristoteles dan stoa menggembangkan teori logika denan menggarap masalah bentuk argumen disjungtif dan hipotesis,trisipus chry mngajukan bentuk-bentuk pikiran sistematis.
B. Abad Pertengahan
Sampai pada tahun 1141 pembahas logika masih berkisar pada karya Aristoteles yang berjudul kategori dan Peri Hermeneias, setelah tahun 1141 keempat karya Aristoteles lainnya Analitika Protera (Silogisme dan Pemikiran) Analitika Hutera (pembuktian) Topika (Metode Debat) Peri Sophisistikoon Eleghchoon (Kesalahan Berpikir) dikenal lebih luas dan disebut dengan logika baru.
Pada abad ke XII-XV berkembang logika modern tokohnya antara lain Petrus, Hispanus, Roger Bacom, W Ockham, dan Raymond Lullus yang menemukan metode logika baru yang disebut Ars Majna yakni semacam aljabar pengertian dengan tujuan untuk membuktikan kebenaran-kebenaran tertinggi.
Pada abad ke 16 Yohanes dan Thomas memberikan komentar yang sangat baik tentang soal-soal logis, selain itu Francis Bacom dari Inggris dan G Galilei dari Itali menulis banyak tentang pembuktian induktif dengan eksprimen-eksprimen tentang gejala dunia diperoleh hukum untuk gejala-gejala dunia.
Bacom dan G Galilei menentang pendapat Aristoteles, terutama Bacom mengganti organom Aristoteles dengan organom yang baru “Novum Organom atau Logika baru yang didasarkan atas gejala-gejala nyata atau fenomena-fenomena bukan atas dasar prinsip-prinsip umum. Sesudah Bacom logika Aristoteles hampir dilupakan seluruhnya, setidaknya diluar filsafat skolastik, sehingga filsafat dan ilmu pengetahuan yang lain mengalami banyak kemunduran.
Ajaran logis Aristoteles diterima oleh Leibniz dan muridnya C. Wolff tetapi loika mereka banyak perbedaan. Logika C.Wolff disebut logika formalistis. Dibawah pengaruh Wolff, Imanuel Kant mempertahankan logika tradisional Aristoteles, teapi Kant, logika itu hanya bersifat formil, logika itu hanya memandang pengertian-pengertian tanpa hubungan dengan realited luar.
Abad pertengahan mencatat berbagai pemikiran yang sangat penting bagi perkembangan logika. Karya Boethius dibidang silogisme hipotetis berpengaruh bagi perkembangan logika diabad pertengahan. Kemudian dapat dicatat juga teori tentang ciri-ciri term, teori suposisis yang diperdalam ternyata lebih kaya dari semiotika matematika zaman sekarang, selanjutnya diskusi tentang universalia, munculnya hubungan, penyempurnaan teori silogisme, penerapan logika modal dan penyempurnaan teknis, lahir diabad pertengahan.
C. Logika pada Abad Modern
Logika aristoteles selain mengalami perkembangan murni, di lanjutkan oleh para filosuf dengan tekanan berbeda, Thomas Hobbes (1588-1679) dalam leviathan dan john locke (1632-1704) dalam karyanya Essay Concerning Human Understanding. Pemikiran di pandang sebagai suatu prosese verbal dan mirip operasi-operasi dalam matematika keduanya memberikan interpretasi tentang kedudukan bahasa di dalam pengalaman.
Francis Bacom dalam Novum Organun menggunakan methode induktif untuk menemukan kebenaran yang di rencanakan, didasarkan pada pengamatan empiris,analisis data yang di amati, penyimpulan yang terwujud dalam hipotesis dan verikasi hipotesis melalui pengamatan dan eksperimen lebih lanjut.
Penghala metode induktif adalah prakonsepsi dan perasaanku yaitu:
1. The idols of the tribel (Idola Tribus) sumber kesesatan terletak pada kodrat manusia sendiri seperti:
a. Manusia hanya mempunyai lima indra.
b. Segala hal di ukur menurut pribadi individual, bukan menurut ukuran semesta.
2. The Idols of the cave (Idola Specus) atau perasangka pribadi setiap orang,Jiwa manusia merupakan sesuatu yang berubah-ubah.
3. The Idols of the Market Place (Idola Feri) di sebabkan seseorang tidak membuat pembatasan pada term-term yang di pakai untuk berpikir dan berkomunikasi.
4. The Idols of the Theatre (Idola theatri) sikap menerima secara membuta terhadap tradisi otoritas.
5. Method of agreement, Metode mencocokan. Sebab di simpulkan dari adanya kecocokan sumber kejadian. Misal semua anak yang sakit perut membeli dan meminum es Sugan yang di jajakan di depan kampus, maka es dugan yang menjadi sebab sakit perut mereka.
6. Method of Difference, metode membedakan, sebab di simpulkan dari adanya kelainan peristiwa yang terjadi. Misal A sakit perut makan nasi rendang,sop buntut dan buah dari kaleng. Sedangkan B tidak sakit perut makan nasi rendang,sop buntut. Maka di simpulkan penyebab sakit perut adalah buah dari kaleng.
7. Joint method of agreement and difference,mencocokan dan membedakan,metode ini gabungan dari metode satu dan dua. Misal A sakit perut Makan nasi pindang,es dugan dan kacang goreng, sedangkan B tidak sakit perut makan nasi pindang,es dugan dan tempe goreng. Permasalahannya tinggal di kacang goreng atau tempe goreng.
8. Method of concamitant Veriation perubahan selang seling. Metode ini mengesampingkan semua yang di pandang sebagai kemungkinan sebab-sebab dari suatu fenomena. Misal A bekerja begitu rajin walau gaji tersendat. Sedangkan B bekerja kurang rajin walau gaji lancar.
9. Methodofresidus, metode menyihsakan, Metode ini dapat di pakai dengan pengkajian atas hanya satu kejadian, dapat di katakan metode deduktif karena bertumpu kuat pada hukum-hukum kuasal yang sudah terbukti sebelumnya.
Pada abad ini di samping perkembangan logika yang de facto beberapa dasar nya telah dibakukan oleh Aristoteles juga terdapat kritik pada logika kasik. Dewasa ini logika tidak semata-mata bersifat falsafati, melainkan juga bercorak amat teknis dan ilmiah, terlebih Logika modern telah tumbuh begitu pesat sehingga seakan mendesak Logika Aristoteles.
D. Ilmu Mantiq atau Logika pada Peradaban Islam
Sejarah Masuknya Ilmu Logika ke Dunia Islam, ‘Ali Sami an-Nassyar, pakar ilmu kalam dan filsafat Islam abad ke-20 dalam salah satu bukunya, Manahij al-Bahts ‘inda Mufakkirii al-Islam, sebenarnya cukup sulit untuk menentukan secara tegas kapan sebenarnya orang-orang Islam mulai mengenai keilmuan filsafat dan logika yang berasal dari Yunani. Para peneliti sejarah pemikiran dan filsafat Islam biasanya hanya menyimpulkan bahwa dunia Islam mulai mengenai filsafat Yunani di era Dinasti Abbasiyyah, ditandai dengan masuknya penerjemahan kailrya-karya filsafat Yunani ke Dunia Islam yang disponsori langsung oleh dunia Islam.
Selain itu, masih menurut an-Nassyar, terlepas dari perbedaan pendapat dari perspektif sejarah kapan sebenarnya teks-teks filsafat masuk ke dunia Islam, yang paling disepakati adalah ilmu logika adalah ilmu pertama yang masuk diantara rumpun keilmuan filsafat. Ilmu ini sebenarnya bahkan sudah masuk sebelum keberadaan Kekhilafan ‘Abbasiyyah. Sejak masa Bani Umayyah (661 – 750 M/40 – 132 H), ranah-ranah dalam kajian filsafat sudah berkembang di wilayah-wilayah yang kedatangan ekspansi wilayah dinasti Bani Umayyah. Meskipun, pengembangan secara resmi dan besar-besaran dilakukan di zaman Dinasti Abbasiyyah. Namun di banyak wilayah seperti Syam, Mesir, Iraq, dan Persia, apa yang diistilahkan sebagai ‘ulum al-Awaail (ilmu-ilmu awal) untuk menyebut ilmu-ilmu yang tidak berasal dari wilayah Arab seperti filsafat dan cabang-cabangnya, sudah berkembang di wilayah tersebut. Ekspansi ke wilayah-wilayah lain tersebut membuat adanya dialog kultur antara al-Ghuzaat (penyerang) dengan al-Umam al-Maghlubah (rakyat yang ditundukkan).
Di daerah-daerah diatas, masyarakat sudah biasa bahkan rata-rata sudah mengerti rumpun ilmu yang berasal dari Yunani tersebut. Keilmuan filsafat menjadi sebuah metode berpikir yang biasa dilakukan, sebelum kehadiran Islam. Saat hadirnya Islam, ketertarikan mereka terhadap filsafat dan ilmu-ilmu lainnya tidak luntur. Justru keilmuan seperti filsafat termasuk logika ikut mewarnai cara memahami Islam. Maka kemunculan berbagai mazhab dalam ilmu kalam (Asy’ariyah, Mu’tazilah, Qadariyah), termasuk penggunaan ilmu logika dalam menjelaskan fikih dan keilmuan-kelimuan lainnya, adalah bagian dari perkembangan sejarah masuknya ilmu logika ke dalam peradaban Islam.
Munculnya pemikiran Islam sebagai cikal bakal kelahiran peradaban Islam pada dasarnya sudah ada pada awal pertumbuhan Islam, yakni sejak pertengahan abad ke-7 M, ketika masyarakat Islam dipimpin oleh Khulafa’ al-Rasyidin.1Kemudian mulai berkembang pada masa Dinasti Umayyah, dan mencapai puncak kejayaannya pada masa Dinasti Abbasiyah. Ketinggian peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah merupakan dampak positif dari aktifitas “kebebasan berpikir” umat Islam kala itu yang tumbuh subur ibarat cendawan di musim hujan. Setelah jatuhnya Dinasti Abbasiyah pada tahun 1258 M, peradaban Islam mulai mundur. Hal ini terjadi akibat dari merosotnyaaktifitas pemikiran umat Islam yang cenderung kepada ke-jumud-an (stagnan). Setelah berabad-abad umat Islam terlena dalam “tidur panjangnya”, maka pada abad ke-18 M mereka mulai tersadar dan bangkit dari stagnasi pemikiran untuk mengejar ketertinggalannyadari dunia luar (Barat/Eropa).Perkembangan pemikiran dan peradaban Islam ini karena didukung oleh para khalifah yang cinta ilmu pengetahuan dengan fasilitas dan dana secara maksimal, stabilitas politik dan ekonomi yang mapan. Hal ini seiring dengan tingginya semangat para ulama dan intelektual muslim dalam melaksanakan pengembangan ilmu pengetahuan agama, humaniora dan eksakta melalui gerakan penelitian, penerjemahan dan penulisan karya ilmiah di berbagai bidang keilmuan. Kemudian gerakan karya nyata mereka di bidang peradaban artefak.
Melalui gerakan pemikiran Islam, berkembang disiplin ilmu-ilmu agama atau ilmu-ilmu keislaman, seperti ilmu al-Qur’an, ilmu qira’at, ilmu Hadits, ilmu kalam/teologi, ilmu fiqh, ilmu tarikh, ilmu bahasa dan sastra. Di samping itu berkembang juga ilmu-ilmu sosial dan eksakta, seperti filsafat, logika, metafisika, bahasa, sejarah, matematika, ilmu alam, geografi, aljabar, aritmatika, mekanika, astronomi, musik, kedokteran dan kimia. Ilmu-ilmu eksakta melahirkan teknologi yang sangat dibutuhkan dalam menunjang peradaban umat Islam.Hasil dari perkembangan pemikiran yang sudah dirintis dari periode klasik awal adalah kemajuan peradaban Islam yang mencapai puncak kejayaannya terutama pada masa dua khalifah Dinasti Abbasiyah, yaituKhalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya al-Makmun (813-833 M). Ketika keduanya memerintah, negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin, walaupun ada juga pemberontakan tapi tidak terlalu mempengaruhi stabilitas politik negara, dan luas wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah ini mulai dari Afrika Utara sampai ke India ( Samsul Munir Amin, 2010: 144).Karena pembahasan tema ini sangat menarik, maka ada empat pertanyaan penting yang perlu diberikan jawabannya dalam tulisan ini, yaitu; Apa faktor pendukung perkembangan pemikiran dan peradaban Islam, bagaimana proses perkembangan pemikiran dan peradaban Islam dari masa ke masa, apa bidang keilmuan yang dikembangkan dan siapa para tokohnya, apa saja bidang peradaban yang berkembang didunia Islam, baik yang benda maupun bukan benda dari awal perkembangannya hingga kajatuhannya, dan apa dampak perkembangan pemikiran dan peradaban Islam terhadap kehidupan umat Islam? Jika dalam pembahasan sering diungkap Dinasti Abbasiyah karena pada saatnya merupakan masa kejayaan pemikiran dan peradaban umat Islam.
1. Ilmu Pengetahuan (Definisi) dan Pembagian Penetahuan
2. Ilmu Penetahuan
Ilmu adalah mengenal sesuatu yang belum dikenal berdasarkan sesuatu yang sudah dikenal, bila yang belum dikenal sampai dapat dikenal itu dari sesuatu yang tunggal seperti kata kucing, Ayam, Kambin, dan sebagainya maka ilmu terhadap sesuatu yang tunggal itu merupakan gambaran (tasawur).
Panca indra sering terbentur pada suatu yang belum diketahui, namun dengan melihat sifat-sifat sesuatu akhirnya sesuatu yang tadinya belum kenal dapat di mengerti dan dipahamidengan sifat-sifatnya, seperti keadaan anak kecil ketika melihat mangga atau Apel, kemudian dirasai atau dicium bauknya, dilihat warna dan bentuknya, diraba dan dipegangnya, serta dicoba dimakannya. Kemudian anak itu mendengar kata mangga atau apel maka mengertilah anak anak bila melihat buah yang semacam itu.
Mulailah anak itu yakin tentang mangga atau apel, tetapi pada masssa itu masih mempercayai bahwa mangga dan apel golongan yang ditanam maka ilmunya sesuai dengan kenyataan, tetapi bila anak itu hanya mengerti termasuk golongan tanaman maka ilmu anak itu termasuk perasangka yang sesuai dengan kenyataan barang yang dikenalnya, kemudian ketika sesuai dengan kenyataan dapat dikatakan benar, atau tassdiq.
Tasdiq atau benar adalah mengetahui antara kedua kedua gambaran atas suatu hakikat dengan menetapkan suatu atau membandingkan kedua gambaran agar memberi hukum atas keduanya dengan pernyataan sesuai atau bertentangan. Ilmu terhadap hakikat suatu dapat dicapai ada yang dapat tampa melalui pemikirin seperti hakikat panas, dingin, asin, tawar, pahit, dan manis. Ilmu yang dicapai membutuhkan pemikiran atau penyelidikan antara lain menetapkan adanya alam.
Ilmu bila dihubunggkan dengan yang diketahui dan sesuai dengan kenyataan, maka ilmu itu bener. Segala pengetahuan yang yakin sesuai dengan kenyataan akan terbentuk ilmu pengetahuan, sedangkan pendapat yang tidak sesuai dengan kenyataan yang salah, khayalan atau pemikiran yang tidak benar. Ilmu yang benar adalah ilmu yang diusahakan dengan jalan logika atau mantiq. Mantiq atau logika digunakan untuk mencari jalan dan dengan jalan, dan dengan jalan itu ilmu pengetahuan tercapai dengan benar. Jadi ilmu ada dua macam tunggal, tasawur (mufrod), dan tasdik (nisbah). Ilmu dibagi menjadi dua yaitu muddah dimengerti (badhihi), dan yang membutuhkan pemikiran (nadhorri).
Ilmu merupakan pengetahuan yang memiliki aspek ontologism, dan epistomologis yang berkembang (jujun, 200: 35) ilmu merupakan pengetahuan yang mengembangkan dan melaksanakan aturan-aturan dengan penuh tanggung jawab.
2. Macam-Macam Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan adalah kebenaran dan kebenaran adalah pengetahuan karenanya manusia dapat memiliki beberapa pengetahuan dan kebenaran.
Pengetahuan yang dimiliki manusia dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a. Pengetahuan yang berasal dari manusia sendiri
b. Pengetahuan berasal dari luar manusia.
Pengetahuan dalam kontek nomor dua dipercaya berasal dari pencipta manusia dan alam yaitu Tuhan, dan di istilahkan dengan pengetahuan wahyu, sedangkan pengetahuan dalam konteks nomor satu dapat dibagi benjadi tiga yaitu:
a. Pengetahuan Indra
Apa yang diketahui dengan pancaindra bermacam-macam pengetahuan dan mencoba mencari keterangan, manusia tidak hanya mengerti mengapa ini adalah demikian melainkan juga mengapa ini menjadi demikian.
Manusia sebagai mikrokosmos (dunia kecil) didalamnya terkandung berbagai gejala seperti melihat, mendengar, menilai, bermenung, merasa ssakit, susah, ingat akan suatu pristiwa yang telah terjadi, memutuskan suatu, bercita-cita. Manusia juga mempunyai berbagai perasaan rindu, kasih sayang, cinta, benci. Gejala-gejala ini biasa disebut dengan pemikiran, rasa dan kemauan (mengerti, merasa, menghendaki).
Gejala yang dapat dialami oleh pancaindra kemudian ditingkatkan menjadi berpikir secara sistematik dan radikal (berpikir hingga keakar-akarnya sampai kepada konsekuensinya yang terahir tidak tanggung-tanggung), disertai dengan riset dan atau ekprimen, hasil hasil berpikir dan berbuat melalui metode ini membentuk pengetahuan yang diistilahkan pengetahuan ilmu.
b. Pengetahuan Ilmu
Adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangnya, dan kepastian ilmu-ilmu yang diproleh dari keterbatasanya.
Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpul pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
c. Pengetahuan Filsafat
Yaitu semua yang ada dan yang mungkin ada, yang diselidiki bagian yang abstrak tentang obyek. Filsafat dalam usahanya mencari jawaban-jawaban dengan berdasarkan kekuatan pikiran manusia bukan berdasarkan wahyu. Filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai segala sesuatu dengan memandang sebab-sebab yang terdalam.
Pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu: pengetahuan langsung dan pengetahuan tidak langsung. Pengetahuan langsung adalah berdasarkan pengalaman sendiri terhadap objek-objek yang ada diluar diri. Pengetahuan tidak langsung adalah berupa autorita kesaksian dari para ahli meliputi:
1) Pengetahuan sejarah
Pengetahuan sejarah berhubungan dengan ilmu-ilmu empiris empirical science berhubungan dengan aspek-aspek pengalaman, yang diproleh melalui pengalaman secara metodologis (melalui proses dan cara-cara tertentu), berorentasi pada tujuan dan bersifat selektif.
2) Pengetahuan agama (berdasarkan wahyu)
Pengetahuan agama adalah kebenaran yang berdasarkan agama bersumber dari wahyu.
3) Pengetahuan berdasarkan konklusi (induksi dan deduksi)
Logika berhubungan dengan pengetahuan tidak langsung berdassarkan konklusi yang besifat deduksi. Logika terutama berhubungan dengan persoalan pembuktian.
2. Peranan Logika bagi Ilmu
Logika dan Ilmu Pengetahuan Peran Logika Hadiatmaja dan Kuswa Endah dalam Mukhtar menyatakan bahwa logika merupakan cabang dari filsafat ilmu yang membicarakan masalh berpikir yaitu mengikuti kaidah berpikir logis. Pembahasan dalam ilmu logika yaitu ukuran dan norma berpikir yaitu kemampuan akal budi manusia untuk mencapai kebenaran, membicarakan aturan berpikir agar dapat mengambil kesimpulan yang benar dan tepat.25 Logika mempelajari masalah penalaran (reasoning) dan tidak semua kegiatan berpikir itu adalah sebuah penalaran. Kegiatan penalaran dalam logika disebut juga dengan penalaran logis. Penalaran adalah proses dari akal manusia yang berusaha untuk menimbulkan suatu keterangan baru dari beberapa keterangan yang sebelumnya sudah ada. Dalam logika, keterangan yang mendahului disebut premis, sedangkan keterangan yang diturunkannya disebut kesimpulan. Penalaran dianggap sebagai konsep kunci yang menjadi pembahasan dalam logika. Penalaran adalah suatu corak
Pemikiran khas yang dimiliki manusia untuk memecahkan suatu masalah. Sehingga Suwardi Endaswara (2012) dalam Muhtar terang menyatakan bahwa logika sebagai esensi dari filsafat ilmu. Oleh demikian dalam filsafat ilmu tidak terlepas dari logika sebagai landasan pokok pengetahuan. Sebab filsafat tanpa logika akan menemukan kegagalan dalam memaknai fenomenologi alam. Logika sememangnya esensi berfikir filsafat ilmu. Sebab filsafat tanpa logika akan kelam. Logika akan membangun kepercayaan seseorang dalam kehidupannya, dimana seseorang akan mampu untuk mengembangkan potensi dirinya jika menggunakan logika berfikir yang baik dan benar.
Kegiatan berpikir atau akal budi manusia. Dengan berpikir dimaksudkan kegiatan akal untuk mengolah pengetahuan yang telah kita terima melalui panca indra, dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran.
Jadi, dengan istilah berpikir ditunjukkan suatu bentuk kegiatan akal yang khas dan terarah. melamun tidaklah sama dengan berpikir, demikian pula merasakan, pekerjaan panca indera (melihat, mendengar dan sebagainya) dan kegiatan ingatan dan khayalan, meskipun ini semua penting sekali untuk dapat berpikir (dan menghasilkan buah pikiran yang berarti). Tetapi berpikir juga berarti kegiatan kenyataan yang menggerakkan pikiran. kenyataan yang memegang inisiatif. Dengan kata-kata yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa berpikir adalah berbicara dengan dirinya sendiri di dalam batin yaitu mulai dari mempertimbangkan, merenungkan, menganalisa, membuktikan sesuatu, menunjukkan alasan-alasan, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pikiran dan sebagainya. Manfaat Logika dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan Sudah tidak dinafikan lagi bahwasanya logika sudah jelas memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Setiap orang sejak masa lampau sudah memikirkan dunia ini dengan logika. Aristoteles dan para pengikutnya memandang logika tidak dikategorikan sebagai suatu ilmu diantara ilmu-ilmu lain. Menurut Aristoteles logika adalah persiapan yang mendahului ilmu. Pembicaraan dan manfaat logika terus diperbincangkan dan terus memberikan manfaat selagi manusia masih menggunakan akal pikirannya.
Menurut Andi Hakim dalam Jujun Suriasumantri mengemukakan bahwa sekiranya hewan mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini yang dilestarikan jangan punah, melainkan manusia jawa. Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.
Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan. Dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Hewan juga mempunyai pengetahuan namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama, maka oleh sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu-pun berbeda-beda.
Menurut Jujun Suriasumantri penalaran merupakan suatu proses perpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses kesimpulan terseburt dilakukan menurut cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih. Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan, namun untuk kesesuaian studi yang memusatkan diri pada penalaran ilmiah.
3. Hubungan Logika dan Pengetahuan/Psikologi
Objek material adalah jiwa manusia dan yang menjadi objek martial logika adalah akal manusia. Akal yang merupakan bagian dari jiwa manusia, psikologi dalam mengkaji akal, pikiran, rasa maupun kehendak manusia bertitik pada pangkal dan ekspresi nya yang muncul dipermukaan, sedangkan logika hanya mempersoalkan hukum hukum berpikir logika dan psikologi saling berhubungan.
Logika hanya mempersoalkan hukum berpikir, cara berpikir, prinsif bekerjanya akal sehingga sampai sebuah hasil yang logis, sedangkan psikologi mempersoalkan tidak hanya manusia yang bersangkutan tetapi situasi dan kondisi yang mempengaruhinya sehingga pada suatu pemikiran tertentu.
Keadaan berpikir seorang sangat tertuakan oleh situasi yang sedang mempengaruhinya keadaan sedih, senang tidak senang, tertekan, terpaksa atau tidak terpaksa bebas dan tidak bebas sangat mempengaruhi proses dan hasil berpikir seorang, suasana psikologi seorang, menentukan cara berpikirnya.
Untuk mencari hubungan antara dua hal maka idealnya langkah pertama yang harus kita ambil ialah mencari tau lebih dalam tentang dua hal tersebut, setelah itu kita tahu adakah kawasan satu hal itu yang mendekati kawasan yang lain.
Kita mulai dari logika. Logika seperti halnya yang kita tahu adalah sebuah fan keilmuan yang membahas rambu-rambu atau aturan main yang kita gunakan saat kita melakukan aktifitas berfikir/menalar, dengan aturan main itu hasil (kesimpulan) dari aktifitas berfikir menjadi kesimpulan yang benar dan tepat.
Yang kedua ialah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan terbentuk dari dua term, ilmu dan pengetahuan. Menurut para sarjana kedua term ini adalah sesuatu yang berbeda meskipun dalam kehidupan sehari-hari kita sering menggunakan kedua kata tersebut dalam tempat yang sama, dengan artian bahwa keduanya ialah hal yang sama, tidak ada perbedaan.
Definisi pengetahuan ialah tersingkapnya suatu kenyataan dalam jiwa hingga tidak ada keraguan terhadapnya, dengan kata lain pengetahuan adalah pengalaman yang kita peroleh dari gejala (kejadian) yang ada disekitar kita. Sedangkan ilmu adalah menghendaki penjelasan lebih lanjut dari sekedar apa yang dituntut oleh pengetahuan. Untuk mencari/menghendaki penjelasan lebih lanjut itu kita harus membandingkan pengetahuan yang satu dengan yang lain, menganalisis, menalar sampai kita temukan sebuah kesimpulan yang tepat dan jiwa kita mengatakan tidak ragu akan kebenaran/ketepatan kesimpulan tersebut, begitu juga orang lain yang tidak akan ragu medengar kesimpulan yang kita peroleh tadi. Kesimpulan itulah yang nantinya kita sebut sebagai ilmu pengetahuan.
Dalam mencari kesimpulan tadi disebutkan kita harus melalui proses analisis, membandingkan, menalar, dan lain-lain yang mana proses itu adalah aktifitas yang dilakukan otak kita (aktifitas berfikir). Dalam hal ini maka jelaslah hubungan diantara logika dengan ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang dalam pencapaiannya tidak lepas dari aktifitas berfikir sangatlah butuh aturan main dalam melakukan aktifitas tersebut sehingga aktifitas itu benar-benar menjadi aktifitas yang selalu berjalan diatas rel kebenaran bukan pada rel kesesatan, dari hal itu maka hasil (output) dari aktifitas itu menjadi hasil yang benar atau tepat. Maka dari itu logika dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena hubungannya yang begitu erat dan saling melengkapi. kesimpulan yang tepat dan jiwa kita mengatakan tidak ragu akan kebenaran/ketepatan kesimpulan tersebut, begitu juga orang lain yang tidak akan ragu medengar kesimpulan yang kita peroleh tadi. Kesimpulan itulah yang nantinya kita sebut sebagai ilmu pengetahuan.
Dalam mencari kesimpulan tadi disebutkan kita harus melalui proses analisis, membandingkan, menalar, dan lain-lain yang mana proses itu adalah aktifitas yang dilakukan otak kita (aktifitas berfikir). Dalam hal ini maka jelaslah hubungan diantara logika dengan ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang dalam pencapaiannya tidak lepas dari aktifitas berfikir sangatlah butuh aturan main dalam melakukan aktifitas tersebut sehingga aktifitas itu benar-benar menjadi aktifitas yang selalu berjalan diatas rel kebenaran bukan pada rel kesesatan, dari hal itu maka hasil (output) dari aktifitas itu menjadi hasil yang benar atau tepat. Maka dari itu logika dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena hubungannya yang begitu erat dan saling melengkapi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara etimologis, logika adalah istilah yang dibentuk dari kata logikos yang berasal dari kata benda logos. Kata logos berarti sesuatu yang diutarakan, untuk pertimbangan akal atau pikiran, kata, atau ungkapan lewat bahasa.
Definis umumnya, logika adalah cabang filsafat yang bersifat praktis berpangkal pada penalaran, dan ekaligus juga sebagai dasar filsafat dan sebagai sarana ilmu. Logika dibedakan antara logika deduktif dan induktif. Logika digunakan untuk melakukan pembuktian.
Sejarah perkembangan logika terjadi dalam 3 masa, yaitu masa Yunani kuno, masa abad pertengahan dan masa dunia modern. Logika terbagi menjadi 2 jenis, yaitu logika alamiah dan logika ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
Mat Jalil. 2013. Mantiq menuju berpikir logis, yogyakarta: Idea press
https://media.neliti.com/media/publications/98384-ID-perkembangan-pemikiran-dan-peradaban-isl.pdf
https://bincangsyariah.com/khazanah/bagaimana-ilmu-logika-masuk-ke-peradaban-islam/