MAKALAH
MENJELASKAN ALIRAN IDEALISME
TOKOH-TOKOH PENTING DAN PEMIKIRANNYA
A. MENJELASKAN ALIRAN IDEALISME
IDEALISME
Idealisme berasal dari kata idea yang berarti gambaran atau pemikiran, dan isme yang berarti paham atau pendapat.Idealisme adalah suatu pandangan dunia atau metafisika yang menyatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat erat hubungannya dengan ide, pikiran atau jiwa.atau Biasa disebut dengan aliran filsafat yang menjelaskan bahwa kebenaran/pengetahuan sesungguhnya bukan bersumber dari rasio atau empiris, melainkan dari gambaran manusia tentang suatu pengamatan.
Untuk membuktikan pengamatan itu perlu diadakan kajian yang mendalam, baik tentang subyek maupun tentang obyek.Ungkapan “buku itu mahal” menimbulkan dua pengertian dan tinjauan. Tinjauan yang pertama segi obyek (buku); buku yang manakah yang mahal itu?, karena tidak semua buku mahal. Tinjauan yang kedua, dari segi subyek, yaitu orang yang mengungkapkan buku mahal itu siapa, karena tidak semua buku mempunyai konsep yangsama tentang pengertian
1. Latar Belakang (Sejarah) Aliran Idealisme
Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia.Mula-mula dalam filsafat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato.Plato menyatakan bahwa alam cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya.Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanya berupa bayangan saja dari alam ide.
Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide sebagai suatu tenaga yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa paham idealisme sepanjang masa tidak pernah hilang sama sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.
Pada jaman Aufklarung para filosof yang mengakui aliran serba dua (dualisme) seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan, maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting daripada kebendaan.Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada penganut idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam.Puncak jaman idealisme pada masa abad ke-18 dan 19 ketika periode idealisme.
Secara historis, idealisme diformulasikan dengan jelas pada abad IV sebelum masehi oleh Plato (427-347 SM). Semasa Plato hidup kota Athena adalah kota yang berada dalam kondisi transisi (peralihan). Peperangan bangsa Persia telah mendorong Athena memasuki era baru.Seiring dengan adanya peperangan-peperangan tersebut, perdagangan dan perniagaan tumbuh subur dan orang-orang asing tinggal diberbagai penginapan Athena dalam jumlah besar untuk meraih keuntungan mendapatkan kekayaan yang melimpah.Dengan adanya hal itu, muncul berbagai gagasan-gagasan baru ke dalam lini budaya bangsa Athena.Gagasan-gagasan baru tersebut dapat mengarahkan warga Athena untuk mengkritisi pengetahuan & nilai-nilai tradisional.Saat itu pula muncul kelompok baru dari kalangan pengajar (para Shopis.Ajarannya memfokuskan pada individualisme, karena mereka berupaya menyiapkan warga untuk menghadapi peluang baru terbentuknya masyarakat niaga.Penekanannya terletak pada individualisme, hal itu disebabkan karena adanya pergeseran dari budaya komunal masa lalu menuju relativisme dalam bidang kepercayaan dan nilai.
Aliran filsafat Plato dapat dilihat sebagai suatu reaksi terhadap kondisi perubahan terus-menerus yang telah meruntuhkan budaya Athena lama.Ia merumuskan kebenaran sebagai sesuatu yang sempurna dan abadi (eternal). Dan sudah terbukti, bahwa dunia eksistensi keseharian senantiasa mengalami perubahan.Dengan demikian, kebenaran tidak bisa ditemukan dalam dunia materi yang tidak sempurna dan berubah.Plato percaya bahwa disana terdapat kebenaran yang universal dan dapat disetujui oleh semua orang. Contohnya dapat ditemukan pada matematika, bahwa 5 + 7 = 12 adalah selalu benar (merupakan kebenaran apriori), contoh tersebut sekarang benar, dan bahkan di waktu yang akan datang pasti akan tetap benar.
Idealisme dengan penekanannya pada kebenaran yang tidak berubah, berpengaruh pada pemikiran kefilsafatan. Selain itu, idealisme ditumbuh kembangkan dalam dunia pemikiran modern. Tokoh-tokohnya antara lain: Rene Descartes (1596-1650), George Berkeley (1685-1753), Immanuel Kant (1724-1804) dan George W. F. Hegel (1770-1831). Seorang idealis dalam pemikiran pendidikan yang paling berpengaruh di Amerika adalah William T. Harris (1835-1909) yang menggagas Journal of Speculative Philosophy. Ada dua penganut idealis abad XX yang telah berjuang menerapkan idealisme dalam bidang pendidikan modern, antara lain: J. Donald Butler dan Herman H. Horne. Sepanjang sejarah, idealisme juga terkait dengan agama, karena keduanya sama-sama memfokuskan pada aspek spiritual dan keduniawian lain dari realitas.
1.Hakikat dealisme
Idealisme termasuk dalam kelompok filsafat tertua.Tokoh aliran ini adalah plato(427 – 347 SM) yang secara umum di pandang sebagai bapak idealisme di Barat yang hidup kira – kira 2500 tahun yang lalu.Aliran ini menurut poedjawijatna memandang dan menganggap yang nyata hanya idea.Idea tersebut selalu tetap atau tidak mengalami perubahan atau pergeseran.Aliran filsafat idealism menekankan moraldan realitasspritual sebagai sumber – sumber utamadi alam ini.
Sejarah idealism berawal dari pikiran plato (427-347 SM).Pikirannya berpengaruh terhadap para pemikir kurang lebih 2000 tahun sesudahnya,termasuk pemikir di kalangan agama masehi.Aliran ini juga telah ikut berpengaruh kepada pemikiran filosof Barat,seperti Imanuel kant,Hegel dan lain – lain.Menurut plato,kebenaran empiris yang dilihat dan di rasakan terdapat dalam alam idea (esensi)form atau idea.
2.Prinsip- Prinsip Idealisme
A. Menurut idealism bahawa realitastersusun atas substansisebagai mana gagasan –gagasan atau ide-ide (spirit).Menurut penganut idealisme,dunia beserta bagian – bagiannya harus di pandang sebagai suatu system yang masing- masing unsurnya saling berhubungan.Dunia adalah suatu totalitas ,suatu kesatuan yang lgis dan bersifat spiritual.
B .Realitas atau kenyataan yang tampak dialam ini bukanlah kebenaran yang hakiki, melainkan hanya gambaran atau ekspresi dari ide-ide yang ada dalam jiwamanusia.
C. Idealisme berpendapat bahwa manusia mengangggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dari pada materi bagi kehidupan manusia.Roh pada dasarnya diangggap sebagai suatu hakikat yang sebenarnya,sehingga benda atau materi disebutsebagai penjelmaan dariroh atu sukma.Demikian pula terhadap alam ekspresi dari jiwa.
D. Idealisme berorientasi kepada ide-ide yang theosentris (berpusat kepada “tuhan”), kepada jiwa, sepiritualita, hal-hal yang ideal (serba cita) dan kepada norma-norma yang mengandung kebenaran mutlak. Oleh karena nilai-nilai idealisme bercorak sepiritual,maka kebayakan kaum kaum idealisme mempercainya adanya tuhan sebagai ide tertiggi atau prima cuasa dandan kejjadian semesta ini.
Kata idealisme dalam filsafat mempunyai arti yang sangat berbeda dari arti yang biasa dipakai dalam bahasa sehari – hari.kata idealis itu dapat mengandung beberapa pengertian,antara lain:
⦁ Seorang yang menerima ukuran moral yang tingggi,estetika,dan agama serta menghayatinya.
⦁ Orang yang dapat melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau progam yang belum ada.
Tiap pembaru sosial adalah seorang idealis dalam arti kedua ini,karena ia menyokong sesuatu yangbelum ada.Mereka yang berusaha mencapai perdamaian abadi atau memusnahkan kemiskinan pun dapat dinamakan idealis dalam arti ini.kata idealis dalam bahasa sehari – hari dapat dipakai sebagai pujian atau olok-olok.seorang yang memperjuangan tujuan-tujuan yang di pandang orang lain tidak mungkin dicapai,atau seseorang yang mengangggap sepi fakta – fakta dan kondisi –kondisi sesuatu situasi,sering dinamakan orang idealis semata – mata(mere idealist).Dalam pengertian terakhir ini,seorang idealis seringkali identik dengan orang yang mengutamakan cita –cita atau tujuan ideal tanpa melihat dan mempedulikan kepada kenyataan –kenyataan yang dihadapinya.
JENIS JENIS IDEALISME
Sejarah idealisme cukup berliku –liku dan meluas karena mencakup berbagai teori yang berlainan walaupun berkaitan.Namun demikian,dalam kesempatan ini selain akan membahas pembahasan utama,yaitu idealisme Hegel,kiranya ada baiknya terlebih dahulu sedikit disinggung idealisme subjektif,idealisme objektif dan personalisme ,walaupun bahasan hanya singkat dan sekilas saja serta tidak memberikann kepuasan dari segi pengelompokannya,tapi kiranya cukup sekedar pengantar menuju studi lebih lanjut.
IDEALISME SUBJEKTIF - IMMATEIRALISME
Idealisme jenis ini kadang-kadang di namakan mentalisme atau fenomenailme. Seorang idealis subjektif akan mengatakan bahwa akal, jiiwa dan persepsi-persepsinya atau ide-idenya merupakan segala yang ada, tetapi hanya ada dalam akal yang mempersepsikannya. Idealisme supjektif diawali oleh Barkeley yang lebih suka menamai filsafatnya dengan nama immateralisme.
IDEALISME OBJEKTIF
Filsuf idealis yang pertama kali dikenal oleh Plato. Ia mambagi dunia dalam dua bagian.Pertama, dunia persepsi, dunia pengliahatan, suara dan benda-benda individual. Dunia yang konkret ini adalah temporal dan rusak; bukan dunia yang sesungguhnya, melainkan sebagai bayanngan alias penampakan saja. Kedua, terdapat alam di atas alam benda, yaitu alam konsep, idea universal atau esensi yang abadi.
Kelompok idealis objektif moderen berpendapat bahwa semua bagian alam tercukup dalam suatu tata tertib yang meliputi segala sesuatu. Mereka pun menisbahkan kesatuan tersebut kepada ide dan maksud dari suatu akal yang mutlak (AbsoluteMind) Hegal-yang akan dibicarakan secara khusus-memaparkan satu dari sistem-sistem yang terbaik dari idealisme monostik atau mutlak (absolute). Pikiran adalah esensi dari alam, dan alam adalah keseluruhan jiwa yang di objektifkan. Mekanik dan idealisme monistik. Bagi seorang personalis, realitas dasar atau bukanlah pemikiran yang abstrak atau proses pemikiran yang khusus, akan tetapi seseorang, suatu jiwa atau pemikir.
Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca pada Harold H.Titus,Living Issues in Philosophy, terjemahan Prof.Dr.H.M. Rasjidi yang diterbitkan bulan bitang,Jakarta,pasal 14
B. Hakikat Pengetahuan ( Idealisme dan Realisme )
Epistimologi pada hakikatnya membahas tentang pengetahuan, yang berkaitan dengan apa itu pengetahuan dan bagaimmana meemperoleh pengetahuan tersebut. Pegetahuan pada dasarnya adalah keadaan mental (mental setate). Mengetahui sesuatu adalah menyusun pendapat tentang sesuatu objek. Dengan kata lain, menyusun gambaran dalam akal tentang fakta yang ada diluar akal. Persoalannya kemudian adalah apakah gambaran itu sesuai dengan fakta atau tidak? Apakah gambaran itu benar? Atau apakah gambaran itu dekat pada kebenaran atau jauh dari kebenaran?
Ada dua teori untuk mengetahui hakikat kebenaran itu. Pertama realisme, yang mempunyai pandangan realitis terhadap alam. Pengetahuan, menurut realisme, adalah gambaran atau kopi yang sebenarnya dari pada yang ada dari alam nyata (dari fakta atau hakikat). Pengetahuan yang ada dalam akal adalah kopi dari yang asli yang ada diluar akal. hal ini tidak ubahya seperti gambaran yang terdapat dalam foto. Dengan demikian,realisme berpendapat bahwa pengetahuan adalah benar dan tepat bila sesuai dengan kenyataan.24
Ajaran relisme percaya bahwa dengan sesuatu atau lain cara,ada hal-hal yang hanya terdapat di dalam dan tentang dirinya sendiri,serta yang hakikatnya tidak terpengaruh oleh seseorang .Contohnya fakta menunjukkan suatu meja tetap sebagaimana adanya kendati tidak ada orang di dalam ruangan itu yang menangkapnya .Jadi meja itu tidak tergantung kepada gagasan kita mengenainya,tetapi tergantung pada meja tersebut.
Para penganut realisme mengakui bahwa seseorang salah lihat pada benda-benda atau dia melihat terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya.Namun,mereka paham ada benda yang tetap kendati tidak diamati.Menurut Prof.Dr. Rasjidi, penganut agama perlu sekali dalam mempelejari realisme dengan alasan:
1. Dengan menjelaskan kesulitan – kesulitan yang terdapat dalam pikiran.kesulitan pikiran tersebut adalah pendapat Yang mengatakan bahwa tiap-tiap kejadian dapat diketahui hanya dari subjektif.Menurut Rasjidi,pernyataan itu tidak benar sebab adanya faktor subjektif bukan berarti menolak faktor objektif.kalau seseorang melihat sebatang pohon,tentu pohon itu memang pohon yang dilihat oleh si subjek.Namun hal ini tidak berarti menandakan pohon yang mempunyai wujud tersendiri.Begitu juga ketika orang berdoa.
2. Dengan jalan memberi pertimbangan pertimbangan yang positif, menurut Rasjidi, umumnya orang beranggapan bahwa tiap-tiap benda mempunyai satu sebab. Contohnya, apa yang menyebabkan ahmad sakit. Biasa nya kita puas ketika di jawab karena kuman. Sebenernya, sebab sakit itu banyak sekali karena ada orang yang bersarang kuman dalam tubuhnya, tetapi dia sakit. Dengan demikian, penyakit penyakit si ahmad itu mungkin di sebabkan keadaan badannya, iklim, dan sebagainya.
Kalau pada realisme mempertajam perbedaan antara yang mengetahui dan yang di ketahui, maka idealisme adalah sebaliknya. Bagi idealisme, dunia dan bagian bagiannya harus di pandang sebagai hal hal yang mempunyai hubungan, seperti organisme dengan bagian bagiannya. Dunia merupakan suatu kebulatan bukan kesatuan mekanik, tetapi kebulatan organik yang sesungguhnya yang sedemikian rupa, sehingga suatu bagian darinya di pandang sebagai kebulatan logis, dengan makna sebagai inti yang terdalam.
Premis pokok yang di ajukan oleh idealisme adalah jiwa mempunyai kedudukan yang utama dalam alam semesta. Sebenernya, idealisme tidak mengingkari materi. Namun , materi adalah suatu gagasan yang tidak jelas dan bukan hakikat. Sebab, seseorang yang akan memikirkan materi dalam hakikatnya yang terdalam, dia harus memikirkan roh akal. Jika seseorang ingin mengetahui apakah sesungguhnya maetri itu, dia harus meneliti, apakah nilai itu, dan apakah yang pikiran itu, apakah nilai, dan apakah akal budi itu; bukannya apakah materi itu.
Premis pokok yang di ajukan oleh idealisme adalah jiwa mempunyai kedudukan yang utama dalam alam semesta. Sebenernya idealisme tidak mengingkari materi. Namun, materi adalah suau gagasan yang tidak jelas dan bukan hakikat. Sebab, seseorang yang memikirkan materi dalam hakikatnya yang terdalam, dia harus memikirkan roh atau akal. Jika seseorang ingin mengetahui apakah sesungguhnya maetri itu, dia harus meneliti apakah itu, apakah nilai itu, dan apakah akal budi itu; bukanya apakah materi itu.
H.M. Rasjidi mengganggap bahwa subjektivitas idealisme ini berbahaya bagi agama. Subjektivitas berarti anggapan bahwa kebenaran sesuatu hal ditentukan oleh si subjek. Oleh karena itu, menurut Rasijidi bisa dikatakan bahwa Tuhan itu mungkin ada si A, tetapi si B tidak mengakuinya.
IDEALISME OBJEKTIF
Di dalam filsafat, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat di pahami dalam kebergantungannya pada jiwa(mind) dan spirit (roh). Istilah idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Keyakinan ini ada pada plato. Pada filsafat modern, pandangan ini mula mula kelihatan pada Georgge Berkeley (1685-1753) yang menyatakan bahwa hakikat objek-objek fisik adalah idea-idea. Leibniz menggunakan istilah ini pada permulaan abad ke 18 ; menamakan pemikiran Plato sebagai lawan materialisme Epicurus(reese:243)
Idealisme objektif, yakni dikatakan bahwa akal menemukan apa yang sudah terdapat dalam susunan alam.Idealisme obyektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan idealismenya itu bertitik tolak dari ide universil (Absolute Idea- Hegel / LOGOS-nya Plato) ide diluar ide manusia. Menurut idealisme obyektif segala sesuatu baik dalam alam atau masyarakat adalah hasil dari ciptaan ide universil. Pandangan filsafat seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang bukan materiil, yang ada secara abadi diluar manusia, sesuatu yang bukan materiil itu ada sebelum dunia alam semesta ini ada, termasuk manusia dan segala pikiran dan perasaannya. Dalam bentuknya yang amat primitif pandangan ini menyatakan bentuknya dalam penyembahan terhadap pohon, batu dsb-nya.
Akan tetapi sebagai suatu system filsafat, pandangan dunia ini pertama-tama kali disistimatiskan oleh Plato (427-347 S.M), menurut Plato dunia luar yang dapat di tangkap oleh panca indera kita bukanlah dunia yang riil, melainkan bayangan dari dunia “idea” yang abadi dan riil. Pandangan dunia Plato ini mewakili kepentingan klas yang berkuasa pada waktu itu di Eropa yaitu klas pemilik budak. Dan ini jelas nampak dalam ajarannya tentang masyarakat ideal.
Pada jaman feodal, filsafat idealisme obyektif ini mengambil bentuk yang dikenal dengan nama Skolastisisme, system filsafat ini memadukan unsur idealisme Aristoteles (384-322 S.M), yaitu bahwa dunia kita merupakan suatu tingkatan hirarki dari seluruh system hirarki dunia semesta, begitupun yang hirarki yang berada dalam masyarakat feodal merupakan kelanjutan dari dunia ke-Tuhanan. Segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia ini maupun dalam alam semesta merupakan “penjelmaan” dari titah Tuhan atau perwujudan dari ide Tuhan. Filsafat ini membela para bangsawan atau kaum feodal yang pada waktu itu merupakan tuan tanah besar di Eropa dan kekuasaan gereja sebagai “wakil” Tuhan didunia ini. Tokoh-tokoh yang terkenal dari aliran filsafat ini adalah: Johannes Eriugena (833 M), Thomas Aquinas (1225-1274 M), Duns Scotus (1270-1308 M), dsb.
Kemudian pada jaman modern sekitar abad ke-18 muncullah sebuah system filsafat idealisme obyektif yang baru, yaitu system yang dikemukakan oleh George.W.F Hegel (1770-1831 M). Menurut Hegel hakekat dari dunia ini adalah “ide absolut”, yang berada secara absolut dan “obyektif” didalam segala sesuatu, dan tak terbatas pada ruang dan waktu. “Ide absolut” ini, dalam prosesnya menampakkan dirinya dalam wujud gejala alam, gejala masyarakat, dan gejala fikiran. Filsafat Hegel ini mewakili klas borjuis Jerman yang pada waktu itu baru tumbuh dan masih lemah, kepentingan klasnya menghendaki suatu perubahan social, menghendaki dihapusnya hak-hak istimewa kaum bangsawan Junker. Hal ini tercermin dalam pandangan dialektisnya yang beranggapan bahwa sesuatu itu senantiasa berkembang dan berubah tidak ada yang abadi atau mutlak, termasuk juga kekuasaan kaum feodal. Akan tetapi karena kedudukan dan kekuatannya masih lemah itu membuat mereka tidak berani terang-terangan melawan filsafat Skolatisisme dan ajaran agama yang berkuasa ketika itu.
Pikiran filsafat idealisme obyektif ini dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam bentuk. Perwujudan paling umum antara lain adalah formalisme dan doktriner-isme. Kaum doktriner dan formalis secara membuta mempercayai dalil-dalil atau teori sebagai kekuatan yang maha kuasa , sebagai obat manjur buat segala macam penyakit, sehingga dalam melakukan tugas-tugas atau menyelesaikan persoalan-persoalan praktis mereka tidak bisa berfikir atau bertindak secara hidup berdasarkan situasi dan syarat yang kongkrit, mereka adalah kaum “textbook-thingking”.
Tokoh-tokoh Aliran Idealisme
1. Tokoh-tokoh Aliran Idealisme
a. Plato (477 -347 S.M)
Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indra. Dan pada dasarnya sesuatu itu dapat dipikirkan oleh akal, dan yang berkaitan juga dengan ide atau gagasan. Mengenai kebenaran tertinggi, dengan doktrin yang dikenal dengan istilah ide, Plato mengemukakan bahwa dunia ini tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide tertinggi adalah kebaikan.
Menurut Plato, kebaikan merupakan hakikat tertinggi dalam mencari kebenaran. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah mengetahui ide, manusia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakannya sebagai alat untuk mengukur, mengklarifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.
b. Immanuel Kant (1724 -1804)
Ia menyebut filsafatnya idealis transendental atau idealis kritis dimana paham ini menyatakan bahwa isi pengalaman langsung yang kita peroleh tidak dianggap sebagai miliknya sendiri melainkan ruang dan waktu adalah forum intuisi kita. Dengan demikian, ruang dan waktu yang dimaksudkan adalah sesuatu yang dapat membantu kita (manusia) untuk mengembangkan intuisi kita. Menurut Kant, pengetahuan yang mutlak sebenarnya memang tidak akan ada bila seluruh pengetahuan datang melalui indera. Akan tetapi, bila pengetahuan itu datang dari luar melalui akal murni, yang tidak bergantung pada pengalaman. Dapat disimpulkan bahwa filsafat idealis transendental menitik beratkan pada pemahaman tentang sesuatu itu datang dari akal murni dan yang tidak bergantung pada sebuah pengalaman.
c. Pascal (1623-1662)
Kesimpulan dari pemikiran filsafat Pascal antara lain :
1. Pengetahuan diperoleh melalaui dua jalan, pertama menggunakan akal dan kedua menggunakan hati. Ketika akal dengan semua perangkatnya tidak dapat lagi mencapai suatu aspek maka hati lah yang akan berperan. Oleh karena itu, akal dan hati saling berhubungan satu sama lain. Apabila salah satunya tidak berfungsi dengan baik, maka dalam memperoleh suatu pengetahuan itu juga akan mengalami kendala.
2. Manusia besar karena pikirannya, namun ada hal yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia yaitu pikiran manusia itu sendiri. Menurut Pascal manusia adalah makhluk yang rumit dan kaya akan variasi serta mudah berubah. Untuk itu matematika, pikiran dan logika tidak akan mampu dijadikan alat untuk memahami manusia. Menurutnya alat-alat tersebut hanya mampu digunakan untuk memahami hal-hal yang bersifat bebas kontradiksi, yaitu yang bersifat konsisten. Karena ketidak mampuan filsafat dan ilmu-ilmu lain untuk memahami manusia, maka satu-satunya jalan memahami manusia adalah dengan agama. Karena dengan agama, manusia akan lebih mampu menjangkau pikirannya sendiri, yaitu dengan berusaha mencari kebenaran, walaupun bersifat abstrak.
Filsafat bisa melakukan apa saja, namun hasilnya tidak akan pernah sempurna. Kesempurnaan itu terletak pada iman. Sehebat apapun manusia berfikir ia tidak akan mendapatkan kepuasan karena manusia mempunyai logika yang kemampuannya melebihi dari logika itu sendiri. Dalam mencari Tuhan Pascal tidak menggunakan metafisika, karena selain bukan termasuk geometri tapi juga metafisika tidak akan mampu. Maka solusinya ialah mengembalikan persoalan keTuhanan pada jiwa. Filsafat bisa menjangkau segala hal, tetapi tidak bisa secara sempurna. Karena setiap ilmu itu pasti ada kekurangannya, tidak terkecuali filsafat.
d. J. G. Fichte (1762-1914 M.)
Ia adalah seorang filsuf jerman. Ia belajar teologi di Jena (1780-1788 M). Pada tahun 1810-1812 M, ia menjadi rektor Universitas Berlin. Filsafatnya disebut “Wissenschaftslehre” (ajaran ilmu pengetahuan). Secara sederhana pemikiran Fichte: manusia memandang objek benda-benda dengan inderanya. Dalam mengindra objek tersebut, manusia berusaha mengetahui yang dihadapinya. Maka berjalanlah proses intelektualnya untuk membentuk dan mengabstraksikan objek itu menjadi pengertian seperti yang dipikirkannya.
Hal tersebut bisa dicontohkan seperti, ketika kita melihat sebuah meja dengan mata kita, maka secara tidak langsung akal (rasio) kita bisa menangkap bahwa bentuk meja itu seperti yang kita lihat (berbentuk bulat, persegi panjang, dll). Dengan adanya anggapan itulah akhirnya manusia bisa mewujudkan dalam bentuk yang nyata.
e. F. W. S. Schelling (1775-1854 M.)
Schelling telah matang menjadi seorang filsuf disaat dia masih amat muda. Pada tahun 1798 M, dalam usia 23 tahun, ia telah menjadi guru besar di Universitas Jena. Dia adalah filsuf Idealis Jerman yang telah meletakkan dasar-dasar pemikiran bagi perkembangan idealisme Hegel.
Inti dari filsafat Schelling: yang mutlak atau rasio mutlak adalah sebagai identitas murni atau indiferensi, dalam arti tidak mengenal perbedaan antara yang subyektif dengan yang obyektif. Yang mutlak menjelmakan diri dalam 2 potensi yaitu yang nyata (alam sebagai objek) dan ideal (gambaran alam yang subyektif dari subyek). Yang mutlak sebagai identitas mutlak menjadi sumber roh (subyek) dan alam (obyek) yang subyektif dan obyektif, yang sadar dan tidak sadar. Tetapi yang mutlak itu sendiri bukanlah roh dan bukan pula alam, bukan yang obyektif dan bukan pula yang subyektif, sebab yang mutlak adalah identitas mutlak atau indiferensi mutlak.
Maksud dari filsafat Schelling adalah, yang pasti dan bisa diterima akal adalah sebagai identitas murni atau indiferensi, yaitu antara yang subjektif dan objektif sama atau tidak ada perbedaan. Alam sebagai objek dan jiwa (roh atau ide) sebagai subjek, keduanya saling berkaitan. Dengan demikian yang mutlak itu tidak bisa dikatakan hanya alam saja atau jiwa saja, melainkan antara keduanya.
f. G. W. F. Hegel (1770-1031 M.)
Ia belajar teologi di Universitas Tubingen dan pada tahun 1791 memperoleh gelar Doktor. Inti dari filsafat Hegel adalah konsep Geists (roh atau spirit), suatu istilah yang diilhami oleh agamanya. Ia berusaha menghubungkan yang mutlak dengan yang tidak mutlak. Yang mutlak itu roh atau jiwa, menjelma pada alam dan dengan demikian sadarlah ia akan dirinya. Roh itu dalam intinya ide (berpikir).
DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad.2000. Filsafat Umum. Bandung. Rosda.
Ihsan , A. Fuad.2010. Filsafat Ilmu.Jakarta. Rineka Cipta.
H.B. Hamdani Ali, M.A.M.Ed.1986. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Kota Kembang
Prof.DR.H. Ramayulis.filsafat pendidikan islam(analisis folosofis).
Prof .Dr. juhaya s. Praja,aliran-aliran fisaafat dan etika
Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A, filsafat AGAMA (wisata Pemikiran dan Kepercayaan manusia)
Prof. Dr. Ahmad Tafsir, filsafat UMUM ( akal dan hati sejak thales capra)
Prof. Dr. Ahmad Tafsir, filsafat UMUM ( akal dan hati sejak thales capra)
Nova destiana,tokoh-tokoh filsafat idealisme dan pemikirannya,diakses dari http://novadst.blogspot.com/2016/12/tokoh-tokoh-aliran-idealisme.html / pada tanggal 26,desember 2016